Waspada Serangan Ulat Grayak Pada Tanaman Bawang Merah

Senin, 19 Agustus 2019

Administrator1

Artikel

Dibaca: 3811 kali

Pada Tahun 2019 Kabupaten Gunungkidul mendapatkan alokasi bantuan dari Program UPSUS BABE komoditas Bawang Merah seluas 25 Ha dari Umbi dan 5 Ha dari Biji. Dinas Pertanian dan Pangan melalui Bidang Perkebunan dan Hortikultura sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan adanya OPT yang nantinya akan menyerang tanaman bawang merah hal itu diwujudkan dengan adanya Pembinaan kelompok tani dengan POPT, salah satu OPT yang wajib diwaspadai adalah ulat bawang. Ulat bawang (Spodoptera exigua) merupakan hama utama yang umum merusak tanaman bawang merah. Serangan hama ini dapat menyebabkan penurunan produksi bawang merah atau kehilangan hasil yang tidak sedikit jika tidak dilakukan upaya Pencegahan dan pengendalian . Ulat bawang adalah larva dari ngengat (Spodoptera exigua L.) atau petani kerap menyebutnya dengan ulat grayak. Ketika masih muda, larva berwarna hijau muda. Jika sudah tua berwarna hijau kecoklatan gelap dengan garis kekuningan-kuningan. Ulat grayak merupakan hama nokturnal yang aktif di malam hari dan akan bersembunyi pada siang hari. Hama ini biasanya berkelompok. Serangannya pun bisa sangat hebat karena dalam waktu satu malam bisa menghabiskan tanaman.

Agar pengendalian hama ulat bawang dapat dilakukan secara tepat, maka harus dikenali terlebih dahulu morfologi/bioekologi, gejala serangan, tanaman inang, dan cara pengendaliannya. sayap depan ngengat berwarna coklat tua dengan garis-garis yang kurang tegas dan terdapat bintik-bintik hitam. Sayap belakang berwarna keputih-putihan dengan garis-garis hitam pada tepinya. Panjang rentangan sayapnya antara 25 – 30 mm. Ngengat betina mulai bertelur pada umur 2 – 10 hari. Telur berbentuk bulat sampai bulat panjang. Telur diletakkan dalam bentuk kelompok pada permukaan daun atau batang dan tertutup oleh bulu-bulu putih yang berasal dari tubuh induknya. Setiap kelompok telur maksimum terdapat 80 butir. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor ngengat betina sekitar 500 – 600 butir. Setelah 2 hari telur menetas menjadi larva. Ngengat dewasa aktif, makan, kawin dan berpindah tempat pada malam hari sedangkan pada siang hari beristirahat di dasar tanaman. Ngengat sangat tertarik terhadap cahaya. Larva atau ulat muda berwarna hijau dengan garis-garis hitam pada punggungnya. Sedangkan warna ulat tua bervariasi yaitu hijau, coklat muda, dan hitam kecoklatan.

 Ulat yang hidup di dataran tinggi umumnya berwarna coklat. Stadium ulat terdiri dari 5 instar (panjang instar pertama sekitar 1,2 – 1,5 mm dan instar kedua sampai instar terakhir antara 1,5 – 19 mm). Ulat berada di dalam rongga daun selama 9-14 hari dan menggerek daun. Setelah instar terakhir ulat merayap atau menjatuhkan diri ke tanah untuk berkepompong. Ulat lebih aktif pada malam hari. Stadium larva berlangsung selama 8 – 10 hari. Pupa berwarna coklat muda dan panjangnya 9 – 11 mm, tanpa rumah pupa. Pupa berada di dalam tanah dengan kedalaman 1 cm, dan sering dijumpai juga pada bangkal batang, terlindung di bawah daun kering, atau di bawah partikel tanah. Dalam waktu 5 hari, pupa berkembang menjadi ngengat. 

 

Gejala Serangan

  • Bagian tanaman yang terserang terutama daunnya, baik daun pada tanaman yang masih muda ataupun yang sudah tua.
  • Setelah menetas dari telur, ulat muda segera melubangi bagian ujung daun lalu masuk ke dalam daun bawang, sehingga ujung daun tampak berlubang/ terpotong. Ulat akan menggerek permukaan bagian dalam daun, sedang epidermis luar ditinggalkannya. Akibat serangan tersebut daun bawang terlihat menerawang tembus cahaya atau terlihat bercak-bercak putih, akhirnya daun menjadi terkulai. Awalnya ulat berkumpul. Setelah isi daun habis, ulat segera menyebar dan jika populasi besar, ulat juga memakan umbi.

Tanaman inang Lain

  • Bawang daun, kucai, jagung, cabai, kapas dan tanaman kacang-kacangan seperti kacang tanah, kapri, dan kedelai.

Cara mengendalikan ulat grayak pada bawang merah

  • Pemasangan light trap (lampu perangkap)

Light trap adalah teknologi pengendalian ulat grayak yang sudah terbukti mampu menekan populasi ulat. Perangkap light trap didesain sedemikian rupa dengan alat sederhana yaitu lampu dan baskom berisi air sabun. Cara kerjanya, lampu dinyalakan pada malam hari dan ngengat akan tertarik dengan cahaya dari lampu tersebut. Setelah mendekat dan hinggap pada lampu, ngengat akan jatuh ke dalam baskom yang berisi air sabun yang diletakkan di bawah lampu.

  • Cara mengendalikan dengan perangkap feromon

Dalam perangkap feromon menggunakan sifat alamiah serangga jantan yang selalu berkomunikasi dengan serangga betina. Dalam semalam, perangkap feromon mampu menangkap hingga 400 lebih serangga jantan. Cara kerjanya sama seperti perangkap lalat buah. Perangkap ini akan diisi air sabun untuk mencegah serangga jantan dapat terbang lagi, untuk lahan 1 hektar, diperlukan antara 12 sampai 25 perangkap. Feromon sendiri merupakan atraktan (senyawa pemikat) yang dirancang khusus untuk mengendalikan populasi ulat grayak. Perangkap feromon bisa bertahan hingga dua bulan atau satu musim tanam.

  • Pengendalian ulat grayak secara manual

Secara manual dilakukan dengan memungut ulat dan mengumpulkan kumpulan telurnya secara langsung. Kemudian daun yang bergejala dimusnahkan dengan dibakar atau dipendam dalam dalam di tanah.

  • Cara mengendalikan dengan pergantian tanaman

Dalam hal ini petani dianjurkan untuk tidak menanam bawang merah terus-menerus di lahan yang sama. Populasi ulat grayak dapat dikendalikan dan dikurangi apabila melakukan pergantian jenis tanaman dalam satu lahan. Hal ini untuk memutus siklus hidup ulat grayak tersebut.

  • Mengendalikan ulat grayak menggunakan kelambu kasa

Kelambu kasa adalah sungkup kain kaya yang dipasang pada lahan budidaya bawang merah. Dengan pemasangan kelambu ini populasi telur dan intensitas kerusakan tanaman akibat serangan ualat grayak dapat dihindari. Penggunaan kelambuakan mencegah ngengat masuk ke area pertanaman.

  • Cara mengendalikan dengan insektisida kimia

Untuk langkah yang terakhir ialah dengan memakai pembasmi kimia dengan metode-metode yang tepat agar ulat grayak dapat benar-benar dibasmi. Ada banyak jenis insektisida berbahan aktif sipermetrin, fenvalerat, siromazin, BPMC, MIPC dan sebagainya. Walaupun praktis dan cepat namun apabila langkah penggunaannya tidak tepat, ulat grayak malah bisa jadi kebal terhadap insektisida. Berikut ini tips bagaimana cara mengendalikan ulat grayak pada bawang merah dengan insektisida kimia. Takaran harus sesuai dengan dosis. Sesuaikan volume semprot dengan instruksi atau petunjuk. Dalam penyemprotan sebaiknya dilakukan pada saat malam hari dan mengikuti arah angin. Pakailah jenis insektisida yang berbahan aktif yang berlainan. Bila memakai bahan insektisida yang sama terus-menerus dikhawatirkan ulat grayak malah justru akan kebal.

Ulat grayak tidak hanya bisa ditemui pada bawang merah saja. Ada banyak tanaman pertanian yang bisa diserang ulat grayak seperti padi, tembakau, kapas, cabai, kubis, kentang, jagung, terong kentang, kacang-kacangan, bayam, kangkung, pisang dan banyak lagi. Cara penanganan hama ulat grayak pun relatif sama dengan ulat grayak pada bawang merah.--RdH

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas

Pencarian

Berita Gunungkidul





semua agenda

Agenda

semua download

Download

Statistik

073264

Pengunjung Hari ini : 33
Total pengunjung : 73264
Hits hari ini : 187
Total Hits : 558879
Pengunjung Online : 2

Jajak Pendapat

Bagaimanakah tampilan website Pertanian?
Sangat Puas
Puas
Cukup Puas
Kurang Puas

Lihat