Evaluasi Pengembangan Tanaman Kapas Seluas 150 Ha Di Kabupaten Gunungkidul

Gunungkidul, Tanaman kapas (Gossypium herbaceum L.)  sudah ada sejak ribuan tahun lalu, buktinya negara India telah melakukan budidaya kapas sejak 5000 tahun yang lalu. Tanaman ini semakin dikenal dan berkembang sampai ke negara China, selanjunya pengembangan tanaman kapas secara intensif dapat kita jumpai di benua Amerika bahkan tersebut telah dibudidayakan di Indonesia.  Kapas adalah tanaman serat dari genus “Gossypium”. di produksi untuk kebutuhan industri atau tekstil, seratnya dapat dijadikan sebagai benang, bahan dasar baju, kapas rumah sakit dan lain-lain.

Kapas mulai dikembangkan di Indonesia pada masa penjajahan negara Belanda, pada masa itu rakyat Indonesia dituntut kerja paksa untuk budidaya tanaman kapas. Setelah belanda pergi, program ini dilanjutkan oleh penjajah Jepang. Pengembangan areal tanaman kapas dilanjutkan sampai saat ini. Pada musim-musim tertentu tanaman kapas sangat tidak menyukai keadaan yang terlalu basah atau terlalu kering. Selama pertumbuhan vegetatif memerlukan hujan sedikit. Lebih baik jika hujan itu terjadi pada malam hari dan pada siang hari mendapat sinar matahari sepenuhnya. Pada waktu buah masak (merekah), perlu keadaan lebih kering. Perubahan dari musim kering mendadak ke hujan lebat dapat menyebabkan rebahnya pohon. Kapas yang umurnya kurang dari 1 (satu) tahun menghendaki curah hujan rata-rata 1500-1800 mm/tahun. Sebaiknya tanaman kapas ditanam di tanah datar, dan cocok pada ketinggian 10-150 mdpl.

Kabupaten Gunungkidul salah satu daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengembangkan Tanaman Kapas, bahkan pada tahun 2019 dikembangkan seluas 150 Ha yang tersebar di 5 Kecamatan yakni Ponjong, Semanu, Tanjungsari, Playen dan Karangmojo yang tersebar di 22 kelompok, pada acara Monitoring dan Evaluasi ini yang dilaksanakan di Ex UPTD Tawarsari hadir Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY yang pada kesempatan ini diwakili oleh Kabid Perkebunan Ir. Ika Hartati, M.Si, Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul Ir. Budi Sudartanto, perwakilan dari PT. PR Sukun Kudus Ir. Heri Wisnu Broto. Dalam acara ini dibahas mengenai hasil dari pengembangan Kapas, dari hasil laporan kelompok tani ternyata tahun ini hasil kurang maksimal hal itu dikarenakan musim kemarau yang berkepanjangan sehingga hasil tidak sesuai dengan yang diinginkan. Tapi secara umum petani untuk tahun depan masih antusias dalam menanam tanaman kapas hal itu di karenakan sebagai tambahan penghasilan terutama petani yang memliki lahan bero. Sedangkan untuk sektor pemasaran kelompok sudah tidak terjadi kendala hal itu dikarenakan Kelompok sudah bermitra dengan PT. PR Sukun Kudus.

Pada kesempatan ini Kabid Perkebunan DPKP DIY dalam sambutanya memberikan arahan dan masukan kepada kelompok tani agar tahun berikutnya dalam pemilihan CPCL harus lebih cermat terutama daerah yang untuk sumber air tidak mengalami kendala, hal itu mengantisipasi musim kemarau yang berkepanjangan. Hal tersebut juga diamini oleh Ir. Budi Sudartanto, hal tersebut harus dipikirkan secara lebih matang agar kedepanya pengembangan tanaman kapas di Gunungkidul dapat berjalan dengan sukses. Perwakilan dari PT. PR Sukun Kudus menegaskan komitmenya dalam bermitra dengan petani Gunungkidul, hal itu dikarenakan hasil dari kapas Gunungkidul lumayan bagus walaupun musim kemarau yang berkepanjangan.— (RdH)

Tinggalkan komentar

Skip to content