PANGGANG (Selasa,10/2/2020). Jika petani lainnya masih menunggu hasil panen padi jagung serta kacang tanah berbeda halnya dengan Suyatno (48) petani dusun Sumber desa Girisuka Panggang. Ditemui di lahan miliknya di dusun Sumber desa Girisuka pinggir jalan raya Panggang- Yogya , Suyatno beserta 5 ibu ibu tenaga petik sedang sibuk memanen cabai (Capsicum annum) jenis cabai rawit hijau.
“ Saya memang khusus menanam cabai rawit hijau untuk konsumsi cabai lalap ceplus karena sudah punya pasar tersendiri. Cabai rawit ini berbeda dengan cabai rawit merah yang untuk sambal atau sayur.” Kata Suyatno menjelaskan.
Ditanya tentang pedagang pembeli cabainya dijelaskan bahwa cabainya dikirim ke Jakarta lewat pedagang pengepul di Siluk Imogiri. Saat ini harga cabai rawit hijau miliknya dihargai Rp 22.000 per kilogram, merupakan petik ke 10. Sebelumnya pernah 2 kali petik dihargai Rp 48.000 perkilogram, kemudian ada yang Rp 30.000 per kilogram. Untuk sekali petik dirinya mendapatkan cabai rawit hijau seberat 90 sd 95 kg. Sehingga jika ditotal pendapatan kotornya sekali petik rata rata bisa mencapai Rp 1.900.000,- Dalam satu bulan bisa 4 kali petik atau rata rata seminggu sekali petik. Padahal tambahnya pengalaman Suyatno (dalam budidaya cabai rawit hijau sudah 2 tahun ini) dalam siklus produksi cabai rawit hijau sekali periode selama 6 bulan tanam bisa panen 20 kali. Sehingga jika harga bagus bisa mengantongi pendapatan kotor Rp 38.000.000,- (tiga puluh delapan juta rupiah) dari lahan 500m2 dengan rentang waktu produksi selama 6 bulan. Sesuatu yang sangat dia syukuri.
Demikian penjelasan Suyatno saat bertemu Kadis DPP Ir. Bambang Wisnu Broto pada monitoring pemantauan pertanaman dan perkiraaan panen musim hujan pertama 2020 di Gunungkidul. Ka DPP sangat mengapresiasi kegiatan petani seperti Suyatno yang bisa menginspirasi petani lainnya untuk meningkatkan pendapatan petani dengan mengusahakan pilihan komoditas tanaman bernilai ekonomi dan telah terhubung dengan pasar sebelumnya sehingga produk yang dihasilkan langsung dapat ditampung oleh pasar.
Ketika ditanya kunci keberhasilannya Suyatno menambahkan dirinya memperkirakan kapan waktu panen dengan harga tinggi dan direncanakan hitung mundur waktu tanam, sehingga ia berani mulai mengolah lahan dan menanam pada bulan September 2020 meski tidak ada air dan tidak ada hujan. Dirinya pada awal tanam menggunakan air yang dibeli, total pengeluaran kebutuhan air tangki mencapai Rp 2,5 juta, sedang sekarang saat sudah hujan dirinya sudah tidak membeli air pengairan cuma mengandalkan air hujan. Untuk bibit dibutuhkan 2400 batang untuk 500m2.
Di tempat yang sama Sumijo,STP. (57) Koordinator PPL Kecamatan Panggang menjelaskan di desa Girisuko binaannya ada sekitar 19 Ha lahan milik petani yang diusahakan ditanami cabai rawit hijau tersebar di beberapa dusun seperti dusun Gebang. Sebelumnya Kadis DPP juga sudah mengunjungi lahan cabai rawit hijau di dusun Gebang. Dari total 19 ha komoditas cabai rawit hijau setiap kali panen semuanya dikirim ke Jakarta lewat pedagang pengepul di Bantul. Awal mula adanya kelompok penanam cabai rawit hijau bermula dari keberhasilan KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari) KWT Ngudi Lestari dusun Gebang desa Girisuko tahun 2017 saat mendapat bantuan permodalan KRPL yang antara lain untuk penanaman cabai rawit hijau di pekarangan anggota KWT, sehingga berkembang setiap tahunnya seperti saat ini.–RY