Kelompok Tani Sido Mulyo Dusun Jambe Duwet Wonosari Terapkan Pertanian IP-4 Dengan Bawang Merah

WONOSARI (Senin,23/11/2020). Sugiyanto (46) petani hortikultura warga dusun Jambe Duwet Wonosari yang juga ketua KT Sido Mulyo bertekad menjadi penggerak pertanian khususnya tanaman hortikultura seperti bawang merah dan cabe di dusunnya. Dirinya sudah merasakan keuntungan dari hasil budidaya bawang merah dan cabe yang bisa menghidupi keluarganya bahkan lebih dari cukup. Sebisa mungkin dirinya menularkan pengalaman kepada warga desanya yang mau maju bersama. Sedangkan dusun Jambe Duwet Wonosari sekarang ini sudah menjadi salah satu sentra budidaya hortikultura di Gunungkidul.Hal ini dibuktikan dengan mengembangkan usaha budidaya bawang merah di luar desanya dengan menggandeng petani lainnya. Adalah Wito (56) dan Wasgu (54) warga Pacing Lor Pacarejo Semanu telah diajak untuk ikut budidaya bawang merah di lahan dusun Pacing Lor.

Pada Senin (23/11/2020) Poktan Sido Mulya Duwet bersama Wito dan Wasgu mengundang panen perdana bawang merah miliknya yang ditanam di Pacing Lor Pacarejo Semanu. Hadir pada saat panen Kepala DPP Ir.Bambang Wisnu Broto, Kabid Perkebunan dan Hortikultura DPP Ir.Budi Sudartanto, beserta para penyuluh BPP Wonosari serta petani KT Sido Mulya.

Dari lahan 2000 m2 milik Wito sudah siap panen bawang merah umur 60 hari dan telah dibeli borongan oleh pedagang pengepul bawang merah dari Bantul seharga Rp. 56.000.000,- ( lima puluh enam juta rupiah). Varitas yang ditanam jenis Tajuk/Thailand Nganjuk. Hari Senin kemarin harga bawang merah di pasaran adalah Rp. 30.000,- (tiga puluh ribu) per kilonya. Diperkirakan hasil panen mencapai 2 ton lebih dari lahan seluas 2000 m2, demikian keterangan Sugiyanto.

“ Saya setiap harinya mempunyai pekerjaan pemborongan plafon gipsum di luar kota, namun melihat perkembangan budidaya bawang merah di Duwet saya jadi tertarik dan mencoba berusaha bidang budidaya pertanian yang selama ini belum terpikirkan di lahan kakak saya Wito dan ternyata berhasil panen, serta  sangat menguntungkan. Untuk bibit kemarin menggunakan umbi bawang merah 120 kg jenis Tajuk seharga Rp 56.000,- per kilo.” Jelas Wasgu. Hasil jual bawang merah telah dibelikan sapi 2 ekor imbuhnya.

Sedangkan Sugiyanto ketua kelompok tani menuturkan bahwa di Duwet dan Pacing petani sudah membangun prasarana pengairan secara mandiri yaitu dengan membuat sumur bor dan perpipaannya. Dalam satu tahun para petani bisa menanam sampai 4x yaitu padi-palawija-bawang merah/cabe- sayuran lain/kangkung, baru kembali tanam padi di bulan akhir Nopember seperti saat ini. Sehingga jika dihitung bisa IP 4. Dirinya berharap Dinas dapat membantu alat mesin pertanian berupa cultivator untuk membuat guludan/bedengan.

Kepala DPP Ir.Bambang Wisnu Broto dalam arahnya sangat mengapresiasi kemandirian petani dalam budidaya tanaman hortikultura khususnya bawang merah  yang sangat menguntungkan petani karena nilai jualnya tinggi. Hal ini akan memberikan pendapatan petani yang baik ditengah pandemi covid-19, dirinya berharap budidaya hortikultura seperti bawang merah, cabe dan sayuran lainnya terus dikembangkan, dipadukan dengan pariwisata sehingga menambah kesejahteraan petani. Juga perlu dicoba secara off-session atau di luar musim, karena bisa mengisi kekurangan stok dan harga yang bagus di pasaran.–RY

Tinggalkan komentar

Skip to content