Waspada Keluron Sebagai Gejala Brucellosis Pada Ternak Sapi

Brucellosis merupakan penyakit hewan menular yang bersifat zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Brucella, pada sapi oleh Brucella abortus. Penyakit ini menjadi masalah dikalangan peternak karena sudah menyebar luas hampir diseluruh propinsi di Indonesia, menghambat laju populasi ternak dan menimbulkan kerugian ekonomi serta menular ke manusia. Pada sapi, kerugian ekonomi terjadi karena kejadian abortus, kematian dini anak sapid an penurunan produksi.

Sapi dapat tertular Brucellosis melalui saluran pencernaan setelah memakan atau meminum bahan (makanan) yang tercemar oleh bahan yang diabortuskan. Sedangkan manusia dapat tertular setelah minum susu sapi atau kambing yang terinfeksi tanpa dipasteurisasi terlebih dahulu.

Gejala Brucellosis padabeberapa hewan dan manusia adalah sebagai berikut :

1. Sapi

Gejala yang Nampak adalah abortus (umur 6-7 bulan ke atas), stillbirth, retensi plasenta, epididymitis, orchitis dan arthritis pada sapi jantan.

2. Domba Kambing

Abortus pada kebuntingan umur 4 bulan, placentitis, retensi plasenta, epididymitis dan orchitis pada domba jantan serta arthritis dan orchitis pada kambing jantan.

3. Babi

Abortus, strerilitas sementara hingga permanen, orchitis, kepincangan/ paralisis posterior dan spondylitis.

4. Kuda

Bursitis suppuratif

5. Manusia

Gejala brucellosis pada manusia antaralain demam, sakit kepala, lemah, nyeri sendi, depresi dan penurunan berat badan.

            Diagnosa dari penyakit ini adalah dengan isolasi bakteri. Untuk pemeriksaan makroskopik dapat dilakukan dengan membuat preparat sentuh dari organ tempat bersarangnya bakteri kemudian diberi pewarnaan. Sedangkan untuk pemeriksaan serologic antara lain dengan Rose Bengal Test (RBT), Serum Aglutination Test (SAT), Complement Fixation Test (CFT) dan Milk Ring Test (MRT).

Untuk tindakan pencegahan yang bisa dilakukan adalah hygiene dan sanitasi terutama pada tatalaksana makanan dan kandang, karena sifat bakteri Brucella yang peka terhadap kondisi kering atau panas dan desinfeksi.  Tindakan pencegahan lain adalah dengan memberikan sertifikat bebas Brucellosis kepada ternak dengan uji serologis dua kali dengan selang waktu 30 hari dengan hasil negative. Hal ini terkait dengan lalu lintas ternak. Selain itu juga bisa dicegah dengan vaksinasi terutama diberikan pada pedet umur 3-8 bulan dan sapi dara dengan tujuan mampu memberikan imunitas hingga kebuntingan ke-5.

Sedangkan untuk pemberantasan dilakukan apabila ditemukan reaktor, sapi tersebut harus dikeluarkan dari kelompok dan dipotong. Sedangkan sapi yang sehat dari daerah yang bebas tidak perlu divaksin. Tetapi apabila berasal dari daerah tertular, maka harus divaksinasi. Dari berbagai sumber. –RW

Tinggalkan komentar

Skip to content