Gunungkidul Menuju Swasembada Minyak Kayuputih Dengan Gerakan Penanaman Benih Unggul Kayuputih

Tanaman kayuputih merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh secara alami di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku. Kegiatan pemuliaan kayuputih ini telah dilaksanakan oleh Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) sejak tahun 1995. Kunjungan kerja Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam rangka penanaman perdana bibit unggul kayuputih pada hari Rabu, 18 Desember 2019 di Petak 95, Paliyan, Gunungkidul, Yogyakarta, dihadiri Bupati Gunungkidul, Rektor UGM, Dirjen lingkup Kemenristek/BRIN, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi DI Yogyakarta, Kelompok Tani Inovasi Tani Makmur, Gunungkidul, Para pelaku usaha industri minyak kayuputih (Perhutani, PT Sanggaragro Karyapersada), Pelaku usaha industri obat kemasan (PT Eagle Indo Pharma), media massa dan tamu undangan lainnya.

            Pada kegiatan ini, Bapak MENRISTEK/Kepala BRIN, Ibu Bupati Gunungkidul, serta tamu undangan akan melakukan penanaman bersama-sama sebagai tanda penanaman bibit kayuputih unggul perdana di kebun Kelompok Tani “Inovasi Tani Makmur (ITAM) 95” yang dikelola dalam skema kemitraan usaha  INTI-PLASMA kayuputih. Sebagai bentuk komitmen dan sinergitas dalam melaksanakan pembangunan bidang kehutanan dan lingkungan hidup, diharapkan Bapak MENRISTEK/Kepala BRIN dapat memberikan arahannya terkait kegiatan riset inovasi pemuliaan dan pengembangan kayuputih unggul ini. Pertimbangan utama dalam riset pemuliaan kayuputih ini adalah karena masih sangat rendahnya produktivitas minyak kayuputih nasional kita yang hanya mampu memasok 15% dari kebutuhan  bahan baku industri obat-obatan dan farmasi dalam negeri. Akibatnya, kekurangan pasokan sebesar 85% dipenuhi dari impor minyak substitusi berupa minyak ekaliptus.  Perlu kami sampaikan bahwa kebutuhan bahan baku minyak kayuputih untuk industri obat kemasan dalam negeri tercatat mencapai lebih dari ±3500 ton per tahun.

            Memperhatikan kondisi ini, BBPPBPTH melakukan riset  pemuliaan tanaman kayuputih secara intensif dan berkelanjutan untuk peningkatan rendemen minyak dan kandungan senyawa 1,8 cineole. Dua karakter ini menjadi komponen utama dalam peningkatan produktivitas tanaman kayuputih. Dalam kurun waktu 30 tahun riset pemuliaan tanaman kayuputih, sudah berhasil diproduksi benih dan bibit unggul kayuputih dengan rendemen minyak >1,25% dan kandungan 1,8 cineole >65% atau peningkatan produktivitas >50% di atas benih biasa. Beberapa kebun benih sebagai sumber produksi benih unggul sudah dibangun dan mampu memproduksi benih unggul untuk kapasitas tanaman sebanyak ±10 juta batang per tahun, atau kapasitas penambahan kebun baru sebesar ±2000 hektar per tahun atau tambahan peningkatan produktivitas minyak sebesar ±500 ton per tahun.  Dengan penggunaan benih unggul ini, maka diharapkan dalam kurun waktu lima tahun dapat dicapai kapasitas produksi minyak kayuputih sebesar 2000 ton per tahun atau pengurangan impor minyak substitusi sebesar 66%. Dalam kurun waktu sepuluh tahun akan tercapai kapasitas produksi minyak kayuputih nasional mencapai 3000 ton per tahun. Pada kapasitas produksi ini, maka impor minyak subsitusi akan bisa dihentikan seluruhnya, dan kita bisa masuk ke masa swasembada minyak kayuputih nasional.

            Bahwa dalam rangka percepatan swasembada minyak kayuputih sebagaimana kami sebutkan di atas, program penelitian kayuputih Balai Besar, sejak tahun 2017 memperoleh hibah dari Kemenristek/Dikti dalam program insentif inovasi industri.  Dalam program tahun pertama dan kedua, kami bekerja sama dengan mitra industri PT Sanggaragro Karyapersada dalam pembangunan kebun kayuputih unggul di Bima, Nusa Tenggara Barat seluas 4000 ha.  Seluruh tanaman dalam kebun kayuputih ini ditanam menggunakan benih/bibit unggul yang dihasilkan dari  inovasi hasil riset  pemuliaan tanaman kayuputih kami. Saat ini luas kebun telah mencapai 2500 ha dengan kapasitas terpasang saat ini produksi minyak kayuputih mencapai ±300 ton per tahun.  

                        Pada tahun 2019 ini, guna mencapai dampak ekonomi langsung bagi masyarakat/petani, kami memulai pola kemitraan INTI – PLASMA, yang melibatkan masyarakat dan kelompok tani, dengan rata-rata  luasan 5 – 10 hektar per kelompok tani. Pada skema kemitraan ini, salah satu industri obat kemasan nasional, yaitu PT Eagle Indo Pharma (Caplang) sudah berkomitmen sebagai INTI yang akan membeli minyak kayuputih yang dihasilkan PLASMA. Kelompok tani PLASMA kayuputih sudah ada di Kabupaten Kapar-Riau, Kabupaten Lampung Utara-Lampung, Kabupaten Biak Numfor-Papua, Kabupaten Bangkalan-Madura dan Kabupaten Gunung Kidul-Yogyakarta, dan pada Desember ini akan dilakukan penanaman secara serempak. Pilot project pengembangan industri kayuputih skala kecil telah kami inisiasi di Kab. Biak-Numfor dengan Kelompok Tani Kowarwis di Kampung Rimbajaya Biak, pada tahun 2015, dan sejak 2017 petani telah menikmati hasilnya (testimoni petani kami sajikan dalam leaflet). Melalui skema pengembangan industri minyak kayuputih nasional sebagaimana kami uraikan di atas diharapkan bahwa pasokan minyak kayuputih dari produksi dalam negeri akan terus meningkat dengan proporsi 50% akan disuplai oleh industri kayuputih skala besar, dan 50%  oleh industri kayuputih skala kecil dan menengah yang melibatkan masyarakat (kelompok tani).  Meningkatnya posisi industri minyak kayuputih nasional ini akan menjadi  salah satu upaya nyata dalam mewujudkan Indonesia  swasembada minyak kayuputih yang akan memberikan dampak pada peningkatan perekonomian bangsa dan kesejahteraan masyarakat.—RdH

Tinggalkan komentar

Skip to content