Bawang Merah Biji atau sering disebut dengan TSS menjadi primadona khususnya untuk petani di daerah Kabupaten Gunungkidul. Hasil yang melimpah ditambah biaya produksi hanya mencapai 9 jutaan, membuat petani Gunungkidul mulai beralih ke Bawang Merah Biji. Pada tahun 2019 Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Pangan mengembangkan Bawang Merah Biji TSS ( True Seed Shallot) seluas 5 Ha yang terbagi di 5 Kelompok Tani. Sedangkan pada tahun 2020 melalui dana dari Kementrian Pertanian Republik Indonesia, Kabupaten Gunungkidul akan mengembangkan 31 Ha yang tersebar di 16 Kecamatan.
Rabu (27/02/20) berlokasi Resto Kampung Tani, Piyaman, Wonosari, dilaksanakan acara Sosialiasi terkait dengan pengembangan Bawang Merah Biji. Terdapat 29 Kelompok Tani yang nantinya akan mengembangkan Bawangb Merah Biji tersebut. Ir. Budi Sudartanto selalu Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan pangan Kabupaten Gunungkidul dalam sambutanya mengucapkan selamat kepada petani terpilih, sebab pada tahun 2020 terdapat 100 Poktan yang mendaftar sebagai petani penanam bawang merah bantuan dari Kementria Pertanian, namun melalui seleksi yang ketat dipilih 29 Poktan, untuk itu perlu bersyukur hal itu diwujudkan dengan menjalankan program yang amanah sehingga menghasilkan hasil yang maksimal tutup beliau. Bawang Merah biji sendiri tidaklah asing bagi kalangan petani, selain hasil yang besar-besar daya simpannyapun tergolong lama sehingga petani bisa mengatur dalam hal penjualan.
Harapan dari Dinas Pertanian dan Pangan terkait dengan pengembangan Bawang Merah Biji ini adalah nantinya akan muncul embrio-embrio penangkar benih bawang merah sehingga petani kabupaten Gunungkidul tidak perlu membeli benih dari luar Gunungkidul namun bisa mengembangkan benih asli Gunungkidul yang tentunya sudah spesifik lokasi dengan keadaan wilayah Gunungkidul. (RdH)