GEDANGSARI (Senin,21/09/2020). Ada pepatah jawa mengatakan ” Kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange” yang dalam bahasa Indonesia berarti sungai kehilangan air dan pasar sepi pengunjung. Yaitu suatu masa dimana sungai-sungai mengering dan pasar-pasar tidak ada pengunjung akibat perubahan jaman, seperti yang mulai kita rasakan saat ini. Namun hal tersebut air sungai telah pulih/terisi Kembali di Ngasem, Ngalang, Gedangsari setelah terbangunnya damparit Kali Ngalang. Demikian Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Ir.Bambang Wisnu Broto mengibaratkan suasana Kali Ngalang saat ini, yaitu “ Kali Ngalang Bali Kedunge” atau Sungai Ngalang telah kembali airnya pada saat memberikan sambutan peresmian Damparit Kali Ngalang dan Panen Kacang Tanah di Musim Ketiga.
Hadir pada acara peresmian damparit dan panen kacang tanah musim tanam ketiga di poktan Marsudi tani , Ngasem, Ngalang, Gedangsari pada hari Senin (21/09/2020) Kepala BPTP DIY Dr.Suharsono , Perwakilan Balai Besar Veteriner Wates, Perwakilan BMKG Staklim Mlati, Panewu Gedangsari beserta Forkompin Kapanewon Gedangsari, Lurah Ngalang, Perwakilan Bagian Perekonomian dan SDA Setda Gunungkidul, BPP Gedangsari dan para PPL, poktan Marsudi Tani dan anggotannya.
Timbul, Ketua Poktan Marsudi Tani melaporkan bahwa dari usulan untuk pembangunan damparit diajukan pada tahun 2019 dan direalisasikan tahun 2020 dengan anggaran dikirim langsung ke rekening poktan dan dilakukan pembangunan secara swakelola oleh poktan mulai bulan Juli 2020 selesai pada Agustus 2020. Pada saat ini damparit telah dimanfaatkan untuk pengairan kacang tanah 4 ha dan kedele 1 ha di musim tanam ketiga atau musim kemarau. Hasil ubinan panen kacang tanah mencapai 3,2 kg per ubin atau setara 5,12 ton polong basah per ha jika dikonversikan menjadi wose adalah 1,6 ton wose per ha. Poktan mengucapkan terimakasih atas bantuan damparit yang sudah diidamkan cukup lama, berharap manfaat damparit bisa meringankan olah lahan dimusim pertama tanam padi seluas 20 ha, dan menjamin ketersediaan air pada musim kedua untuk tanam padi seluas 20 ha, serta pada musim tanam ketiga diperkirakan luas tanam palawija dan sayuran akan meningkat dibanding saat ini karena sudah yakin akan ketersediaan air mencukupi.
Kepala BPTP DIY Dr.Suharsono berharap air yang sudah dapat dipanen bisa dimanfaatkan untuk tanam dan tanam. Perlu mencoba menambah tanaman hortikultura yang bernilai ekonomi disamping tetap membudidayakan kacang tanah, yaitu dengan memanfaatkan pekarangan yang ada dengan sumber air dari damparit. Selain itu kedepannya berharap area damparit bisa dimanfaatkan untuk wisata edukasi pertanian.

Ir.Bambang Wisnu broto, Kepala DPP menyambung sambutannya menjelaskan bahwa dirinya mengapresiasi poktan Marsudi Tani yang telah merealisasikan pembangunan damparit serta memanfaatkan panen air. Dari hasil ubinan kacang tanah dihitung telah melampaui rata rata profitas kabupaten yaitu rata rata profitas kacang tanah 1,2 ton wose per ha. Jika dikalkulasikan pendapatan kacang tanah mencapai 32 juta rupiah per ha, serta masih ditambah hasil sampingan pakan ternak sebesar 4 juta per ha. Sehingga para petani diharapkan makin sejahtera serta secara swadaya dapat meningkatkan jaringan distribusi air/perpipaan sehingga jangkauan air dam parit semakin luas. Kepada BPTP diharapkan program program pendampingan teknologi bagi petani mengiringi ketersediaan air yang telah cukup. Kepada BMKG diucapkan terima kasih atas ked=sediaan mendampingi petani Gunungkidul 3 tahun kedepan sebagai program SL Iklim Operasional di Gunungkidul.
Drs.Martono,MSi. Panewu Gedangsari berterimakasih atas program program infrastruktur air di Gedangsari untuk sektor pertanian. Hal ini menjadi bersinergi dengan bantuan wakaf air untuk air bersih sehingga akan seiring sejalan, dimana banyak Yayasan yang telah menyumbang pembangunan sumur air bersih dan air minum di Gedangsari, sedang dari pemerintah khususnya Dinas Pertanian dan Pangan untuk air irigasi pertanian.—(RY)