ONE HEALTH (Kesehatan Semesta)Sebagai Langkah Terpadu Pengendalian Zoonosis

Kabupaten Gunungkidul merupakan kabupaten di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan ibukota Wonosari. Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul 1.485,36 Km2 atau sekitar 46,63 % dari luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai daerah dengan kontribusi PDRB terbesar dari sektor pertanian yaitu 25,2 % dari total PDRB, tentunya sektor pertanian  masih menjadi sumber penghidupan terbesar masyarakat Gunungkidul, dengan jumlah petani hampir 70% penduduk. Produksi pertanian Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2020 mencapai 70,5 % dari total produksi pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu sebesar 2,3 juta ton. Hal ini dilihat dari produksi padi kering giling 291.772 ton, jagung 275.894 ton, kedelai 4.753 ton, kacang tanah 66.000 ton wose dan produksi ubu kayu mencapai 1 juta ton. Populasi ternak terbesar di wilayah Kabupaten Gunungkidul antara lain sapi potong 154.423 ekor, ayam buras 1.128.362 ekor,serta kambing 199.147 ekor. Polulasi ternak yang tinggi tersebut merupakan peluang dan potensi untuk meningkatnya kesejahteraan masyarakat, tetapi juga merupakan tantangan karena tingginya populasi ternak juga menjadi faktor resiko terhadap kejadian penyakit hewan menular maupun penyakit zoonosa. Penyakit Hewan Menular (PHMS) yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul antara lain Avian Influenza, Brucellosis, Leptospirosis dan Anthrax.

Pada bulan Januari 2021 One Health Jogjakarta yang dipimpin oleh Prof. Wayan Tunas Artama, MSc, PhD menemui Kepala Dinas Pertanian Ir. Bambang Wisnu Broto dalam rangka penyusunan video Kerjasama terpadu antara Dinas Pertanian dan Pangan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, dalam pengendalian beberapa kasus zoonosis yang ditangani dengan stategi One Health. Kabupaten Gunungkidul merupakan Kabupaten yang pertama kali memiliki suatu bentuk keterpaduan Kerjasama lintas Organisasi Perangkat Daerah yang diwujudkan dengan adanya SATGAS ONE HEALTH Kabupaten Gunungkidul. Video yang disusun akan digunakan sebagai materi atau bahan ajar pada winter course untuk 25 negara didunia.

Kasus penyakit zoonosis yang pernah terjadi di wilayah Kabupaten Gunungkidul yang ditangani dengan strategi One Health antara Dinas Pertanian dan Pangan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul antara lain :

1.Avian Influenza(AI)/Flu Burung. Terjadi pertama kali sekitar tahun 2004. Pada saat itu ada tim PDSR (Participatory Disease Survailans and Respons) dari Dinas Peternakan saat itu untuk pengendalian wabah, bekerjasama dengan tim dari Dinas Kesehatan yaitu Tim DSO (Disease  Survailans Officer). Kegiatan berupa respon laporan Kematian Unggas Mendadak (KUM), kemudian tindakkan pengendalian berupa desinfeksi dan KIE bersama.

2. Dari catatan yang dilaporkan serangan hama tikus pada musim tanam 2018/2019 seluas 295 Ha, sedangkan pada musim tanam 2020/2021 mencapai 55 Ha. Upaya yang telah dilakukan adalah Gerakan pengendalian bersama Kelompok Tanai dan Regu Pengendali tanaman (RPT) menggunakan emposan beracun dan umpan beracun. Kejadian leptospirosis, penyakit yang ditularkan oleh tikus. Kejadian tertinggi di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2018. Apabila ada informasi melalui grup Satgas One Health, maka Dinas Pertanian dan Pangan akan segera melacak kelokasi kejadian. Dinas Pertanian dan Pangan juga mengambil sampel drah dari ternak disekitar lokasi kejadian untuk dilakukan pengujian bakteri Leptospira. Kegiatan pembasmian tikus juga dilaksanakan untuk mengurangi tingkat kejadian, KIE kepada petani juga dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan Alat Perlindungan Diri (APD) pada saat bekerja di sawah.

3. Gigitan Hewan Pembawa Rabies (Anjing dan Kucing). Laporan gigitan HPR biasanya dilakukan oleh petugas Kesehatan. Laporan tersebut kemudian ditindak lanjuti dengan survailans kelokasi kejadian oleh tim gabungan Dinas Pertanian dan Pangan dengan Dinas Kesehatan. Korban gigitan diobati atau dirujuk ke RSUD, sedangkan hewan yang menggigit di observasi selama 14 hari untuk memastikan apakah hewan tersebut positif atau negative rabies. Hasil yang didapat selama ini negative rabies.

4. Kasus penyakit anthrax terjadi dua kali di kabupaten Gunungkidul, yaitu pada Mei 2019 di Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, serta pada akhir 2019 sampai awal Januari 2020 di Kalurahan Gombang, Kapanewon Ponjong, serta kalurahan Pucanganom, Kapanewon Rongkop. Penanganan kasus diawali dengan adanya laporan kematian ternak berturut-turut dari masyarakat. Laporan tersebut ditindak lanjuti oleh Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, dengan melakukan survailans ke lokasi kejadian dan pengambilan sampel. Biasanya pada saat itu sekaligus probing kasus, bertanya pada masyarakat tentang awal mula dan alur kejadian. Pada dua kali kejadian anthrax tersebut petugas DPP juga melihat adanya gejala anthrax cutaneus(kulit) pada masyarakat sekitar. Mengetahui hal tersebut Bapak Kepala Dinas langsung berkoordinasi dengan Kadis Dinas Kesehatan untuk segera melaksanakan Gerakan pengendalian bersama-sama. Gerakan pengendalian dilaksanakan dengan segera membentuk Tim Gerak Cepat Pengendalian Anthrax DPP. Tim tersebut melakukan kegiatan desinfeksi lokasi kejadian dengan formalin, penyuntikan antibiotic dan vitamin pada ternak yang masih hidup, KIE bersama Dinas Kesehatan, penyuntikkan vaksin antrax di zona merah, kuning dan hijau, setahun 2 kali selama 10 tahun. Kegiatan lain yang dilaksanakan adalah pengawasan lalu lintas ternak diperbataan Kerjasama dengan Pol PP, TNI/POLRI, pemerintah Kalurahan dan Kapanewon. Pengawasan lalulintas ternak, pemeriksaan Kesehatan hewan, penyemprotan desinfektan di pasar hewan bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Penguburan bangkai sapi juga bekerja sama dengan TNI/POLRI dan BPBD Kabupaten Gunungkidul.

Sedangkan kasus konflik antara satwa liar dengan manusia yang terjadi di wilayah Kabupaten Gunungkidul antara lain :

1.Kasus gigitan hewan liar yang banyak terjadi di Kapanewon sekitar pantai. Kasus ini terjadi pada musim kemarau, dengan korban ternak kambing milik masyarakat. Beberapa usaha sudah dilaksanakan salah satunya dengan memasang perangkap, mengundang ali dari Fakultas Kedoteran Hewan UGM, BKSDA, untuk bisa mengetahui dan mengatasi konflik tersebut.

2. Kasus serangan kelompok kera ekor panjang. Kasus ini merata diseluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul. Terjadi pada musim kemarau, dugaan karena sediaan pakan alami kera tersebut di alam sudah menipis. Kera tersebut merusak lahan pertanian petani. Usaha yang dilakukan dengan mendatangkan ahli maupun pawing, agar bisa menyelesaikan konflik tersebut.

3. Kasus gigitan ular banyak terjadi pada pergantian musim. Beberapa jenis ular berbisa yang ada di kabupaten Gunungkidul diantaranya  cobra, ular tanah, hjau ekor merah, weling. Gigitan biasanya menyerang penduduk yang sedang pergi keladang. Upaya yang dilakukan antara lain sosialisasi bersama diprakarsai DPP mengundang Dinkes , materi tentang ular dengan menghadirkan Dr. drh. Slamet Raharjo dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Sosialisasi bertujuan agar masyarakat maupun petugas memahami tatacara imobilisasi pada pasien gigitan ular sehingga resiko fatal bisa diminimalisir.—(RW)

Tinggalkan komentar

Skip to content