DPP dan BPTP DIY Adakan Temu Lapang Panen Air dan Bawang Merah Bersama Bupati Gunungkidul

TANJUNGSARI (Kamis,21 Oktober 2021). Lahan pertanian di wilayah Kabupaten Gunungkidul umumnya berupa lahan kering, sangat tergantung dengan musim hujan. Oleh karena permasalahan utama keterbatasan air menyebabkan  Indek Panen (IP) rata-rata kurang dari 1,5 setahunnya. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan inovasi teknologi pengelolaan air berupa antara lain  teknik identifikasi potensi sumberdaya air, teknik panen air hujan, pemanfaatan air tanah dalam, teknologi irigasi hemat air, dan teknologi konservasi tanah dan air. Teknik panen air hujan dengan membuat embung sederhana ukuran 3 X 4 X 3 m mampu mengairi lahan pertanian di musim kemarau seluas 1000 m2, sehingga bisa meningkatkan IP dari 1,5 menjadi 300-400 dengan komoditas sayuran di musim kemarau seperti bawang merah, cabe, kangung maupun sawi dan sayuran lainnya.

Inovasi yang lain adalah panen air dengan pemanfaatan air tanah dalam. Seperti halnya di bulak Ngleses, Wonosobo, Banjarejo, Tanjungsari terdapat sumur dalam yang dibangun pada tahun 1980-an dan belum dioperasionalkan. Untuk merevitalisasi sumur tersebut Pemerintah Desa Banjarejo mengajukan proposal ke BPTP DIY untuk bisa diberikan pendampingan dalam pemanfaatan sumur dalam tersebut. Revitalisasi telah dilakukan oleh BPTP dengan memberikan bantuan hibah berupa pompa submersibel, penyambungan listrik, pemasangan panel listrik, dan perbaikan pipa pemasukan dan distribusi. Debit air yang dihasilkan mencapai 16 liter per detik dan mampu menjangkau areal pertanian seluas 100 ha di wilayah Kalurahan Ngestirejo, Banjarejo, dan Kemadang, Tanjungsari.  Disepakati sebagai pengelola irigasi adalah BUMDes Banjarejo bekerjasama denga P3A.

Pada hari Kamis (21/10/2021) peresmian pemanfaatan irigasi air tanah dalam di Bulak Ngleses dilakukan oleh Bupati Gunungkidul, Bapak H. Sunaryanta didampingi oleh Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul drh.Krisna Berlian , Direktur PDAM, Ka BPTP Dr.Suharsono,S.Pt.,M.Si., dan pejabat lainnya. Dalam peresmian tersebut juga dilaksanakan pemanenan bawang merah secara simbolis dengan hasil ubinan mencapai 10,4 ton/ha. Dengan berfungsinya irigasi air tanah dalam  diharapkan  meningkatkan Indek Panen dari 1,5 menjadi 300-400 dengan komoditas tanaman pangan pada musim hujan (MH1 dan MH2) dan sayuran di musim kemarau seperti bawang merah, cabe, kangung, bayam, sawi dan sayuran lainnya pada musim kemarau (MK). Setelah terbentuk kawasan pertanian diharapkan juga akan tumbuh terminal agribisnis yang dapat mendukung kegiatan kepariwisataan.

Dalam sambutannya Bupati Gunungkidul H. Sunaryanta mengungkapkan bahwa ketika tempat wisata masih ditutup, dan  petani masih bisa bertahan  menjadikan  sektor pertanian sangat penting. Kedepan  ada 3 tempat yang akan diangkat untuk mendapatkan air. Salah satunya di wilayah Baron. Atas nama pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul, Bupati mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pemulihan ekonomi petani Gunungkidul sebagai upaya bangkit dari pandemi covid-19.

Acara dilanjutkan dengan BImbingan Teknis (Bimtek)  Panen Air di Lahan Kering dan Panen Bawang Merah di Bulak Ngleses, Wonosobo, Banjarejo, Tanjungsari. Peserta Bimtek berasal dari Penyuluh BPTP DIY, Penyuluh Pertanian Kabupaten Gunungkidul, Koordinator Penyuluh Pertanian BPP se- Kabupaten Gunungkidul wilayah pantai selatan, Gapoktan Desa Kemadang, Desa Banjarejo, dan Desa Ngestirejo, kapanewon Tanjungsari, dan perwakilan gapoktan Tegalrejo, Gedangsari. Sebagai narasumber Peneliti dari BPTP DIY.—(RY)

Tinggalkan komentar

Skip to content