Ketika mendengar kata era industri 4.0 mungkin sebagian masyarakat umum masih awam dan skeptis terhadap istilah ini. Perubahan paradigma yang cukup mendasar sangat diperlukan untuk bersiap menyongsong era industri 4.0. Alih-alih untuk mendiskusikan indusri 4.0, untuk mendiskusikan pola beternak yang konvensional saja banyak yang enggan dan pesimistis di kalangan peternak rakyat kita. Komunitas akar rumput dalam sub sektor peternakan yaitu para peternak di tingkatan kepemilikan pribadi maupun yang tergabung dalam sebuah wadah kelompok ternak sedikit banyak harus mulai diarahkan untuk menuju dan bersaing dalam menghadapi era tersebut. Menurut Prof. Kudang Boro Seminar, akademisi dan pakar yang memadukan pertanian dan komputasi Institut Pertanian Bogor (IPB), bahwa industri 4.0 bercirikan industri yang aktifitas dan atau proses bisnisnya harus melibatkan teknologi informasi dan jaringan internet yang menghubungkan semua unit operasinya dengan berbagai instrumen (sensor, satelit, drone) dan peralatan (robot dan mesin) yang memungkinkan itu semua bekerja secara sinergis, cepat, akurat dan cerdas berdasarkan data dan informasi relevan terkini.
Wilayah Sumber Bibit Sapi PO (WILSUMBIT) di Kecamatan Wonosari dan Playen setidaknya sedang berbenah untuk menuju paradigma baru industri 4.0. Salah satu kelompok yang sangat progresif dalam merubah mindset yaitu Kelompok Ngudi Sari, Karangrejek, Wonosari, yang merupakan anggota dari ASPIPO (Asosiasi Peternak Sapi PO) yang sebelumnya bernama GAPOKBITNAK (Gabungan Kelompok Perbibitan Ternak). Melalui akun blog di alamat ngudisarikaranggumuk.blogspot.com, informasi mengenai profil kelompok, kegiatan, produk sapi berupa pedet sapi PO yang berkualitas bisa dimonitor setiap saat. Strategi bisnis yang tengah dirintis inilah memberi aura optimis bahwa peternakan rakyat bisa dan mampu untuk menuju industri 4.0.
Pemanfaatan media sebagai sumber informasi dalam hal pemasaran hasil perbibitan sapi PO yang berkualitas, merupakan langkah awal dalam bersiap menuju industri 4.0. Aplikasi microchip juga akan segera diluncurkan, guna memudahkan monitoring ternak rakyat dan silsilahnya. Melalui recording microchip, diharapakan sapi PO akan jelas silsilah keturunannya sebagai standar mutu bibit yang berkualitas.
Pendampingan yang berkelanjutan baik dari Bidang Peternakan dan Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Dinas Pertanian dan Pangan, serta kerjasama lintas sektor sangat diperlukan oleh komunitas akar rumput sektor peternakan rakyat, agar api semangat beternak terus membara dalam rangka meniingkatkan taraf perekonomian masyarakat petani peternak di era industri 4.0.
Gegap gempita industri 4.0 harus diiringi kesiapan sumber daya manusia dan perubahan paradigma berfikir untuk terus maju membangun sektor peternakan sebagai penggerak perokonomian rakyat, dan tulang punggung ekonomi keluarga khsususnya. Diperlukan komitmen bersama dan kuat untuk menjaga predikat Gunungkidul sebagai gudang ternak terjaga kualitas, kuantitas dan eksistensinya dalam rangka menyongsong era industri 4.0. –YFS