Seribu Hektar Lebih Tanaman Palawija Gunungkidul Telah Dipanen

WONOSARI ( Jumat, 15 Januari 2021). Sampai dengan pertengahan Januari 2021 pertanaman palawija seluas 1.141 Ha di Gunungkidul telah dipanen, dan diperkirakan terus bertambah. Sampai akhir Januari hingga awal Febuari semua tanaman palawija meliputi jagung, kedele dan kacang tanah diperkirakan telah selesai dipanen. Hal ini disebabkan musim hujan pertama tahun 2020/2021 maju tidak seperti tahun tahun sebelumnya, sehingga panen maju lebih awal. Komoditas kacang tanah telah panen 963 Ha, hampir seluruh Kapanewon mulai  panen kacang tanah, paling luas ada di Kapanewon Tanjungsari telah panen seluas 265 Ha dan Kapanewon Girisubo 209 Ha, Kemudian Kapanewon Tepus 176 Ha. Sedangkan jagung baru panen 162 Ha dengan luasan 101 Ha di Purwosari dan Tanjungsari 35 Ha. Untuk komoditas kedele telah panen 16 Ha di Playen, Semin, Ngawen dan Nglipar. Demikian Ir. Bambang Wisnu Broto Kepala Dinas Pertanian dan Pangan menjelaskan mengenai dimulainya masa panen musim tanam pertama tahun 2021 di kabupaten Gunungkidul. Data tersebut di dapat dari monitoring di lapangan dan laporan para petugas pertanian, tambahnya.

“Mudah mudahan saat pandemi begini petani tetap produktif menghasilkan pangan,agar pangan kita terjaga “ jelas Ir. Bambang Wisnu Broto mengapresiasi musim panen di Gunungkidul.

Dari laporan utama Kementerian Pertanian di musim pertama tahun 2021 luas tanam padi Gunungkidul    mencapai 48.104 Ha, luas tanam jagung mencapai 47.198 Ha dan luas tanam kedele mencapai 142 Ha, serta luas tanam kacang tanah di musim tanam 2020/2021 atau di MH1 mencapai 16.557 Ha. Khusus palawija jagung, kedele dan kacang tanah akan selesai panen pada akhir Januari hingga awal Febuari, sedang untuk padi yaitu padi gogo zone selatan mulai panen akhir Januari 2021 dan secara keseluruhan panen raya padi mulai Febuari hingga Maret 2021.

Usmandoyo,STP. Petugas Pertanian Kapanewon Tepus telah melakukan ubinan bersama pada panen kacang tanah dengan poktan Sedyo Makmur, Purwadadi, Tepus. Hasil ubinan didapat 3,07 kg polong per ubin dan 3,01 kg polong per ubin. Jika dikonversikan maka didapat kurang lebih 4,8 ton polong basah kacang tanah per hektar, atau 1,53 ton wose kering kacang tanah.

Sedangkan Bekti, Amd. Petugas Pertanian Kapanewon Playen melakukan ubinan dengan hasil ubinan kacang tanah sebesar 2,92 kg polong basah, jika dikonversikan mendapatkan hasil 4,7 ton polong basah kacang tanah per hektar atau 1,49 ton wose kering per hektar.

Dengan harga kacang tanah wose saat ini di petani mencapai Rp 22.000 per Kg maka petani akan mendapatkan hasil kisaran Rp 30 juta per hektar.—(RY)

Tinggalkan komentar

Skip to content