Pulihkan Kawasan Pascabencana, Pemkab Gunungkidul Tanam Ribuan Pohon di Tancep

(NGAWEN) – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bersama Harian Jogja dan sejumlah sponsor melaksanakan gerakan penanaman 3.000 pohon di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, Senin (18/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan kawasan pascabencana banjir dan longsor yang beberapa waktu lalu melanda wilayah tersebut.

Gerakan penanaman dilakukan dengan menanam berbagai tanaman produktif dan konservatif seperti pohon nangka, sirsak, sukun, serta akar wangi. Pohon nangka menjadi salah satu tanaman utama karena dinilai memiliki manfaat ekologis, ekonomi, sekaligus historis bagi masyarakat Gunungkidul.

Selain bernilai konservasi, pemilihan pohon nangka juga merupakan bagian dari amanat Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Gunungkidul Nomor 3 Tahun 1999 tentang Flora dan Fauna Identitas Kabupaten Gunungkidul, yang menetapkan buah nangka sebagai flora identitas daerah dan lebah madu sebagai fauna identitas Kabupaten Gunungkidul. Penanaman pohon nangka dengan demikian tidak hanya mendukung rehabilitasi lingkungan, tetapi juga memperkuat identitas lokal daerah.

Lebih dari itu, pohon nangka memiliki nilai historis yang erat dengan asal-usul nama Gunungkidul melalui kisah “Babat Alas Nongko Doyong”. Dalam sejarah lokal, wilayah Gunungkidul dikaitkan dengan pembukaan kawasan hutan yang ditandai keberadaan pohon nangka miring atau “nongko doyong”. Narasi historis ini menjadikan pohon nangka bukan sekadar tanaman produktif, tetapi juga simbol warisan budaya dan perjalanan sejarah masyarakat Gunungkidul.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kapolres Gunungkidul, Komandan Kodim 0730/Gunungkidul, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, BPBD Gunungkidul, DPUPRKP Gunungkidul, Panewu Ngawen beserta jajaran Forkopimkap Kapanewon Ngawen, Pimpinan Redaksi Harian Jogja, para sponsor, kepala instansi vertikal di Kapanewon Ngawen, para lurah se-Kapanewon Ngawen, serta warga Tancep dan tamu undangan lainnya.

Bupati Gunungkidul menyampaikan bahwa gerakan penanaman pohon tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan penghijauan semata, tetapi juga sebagai langkah strategis membangun ketahanan masyarakat di masa mendatang.

“Kita tidak hanya berbicara soal penghijauan, tetapi juga tentang ketahanan pangan, penguatan ekonomi masyarakat, serta upaya menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Bupati Gunungkidul.

Sebagai wilayah perbukitan yang rentan terhadap longsor dan banjir limpasan, terutama saat curah hujan tinggi dalam waktu lama, kawasan Tancep dinilai memerlukan penguatan vegetasi untuk menjaga kestabilan tanah dan meningkatkan daya resap air. Tanaman keras seperti nangka diharapkan mampu mendukung konservasi lahan sekaligus memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.

Pemilihan pohon nangka juga relevan dengan kebutuhan bahan baku pangan khas Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni gudeg. Buah nangka muda merupakan bahan utama pembuatan gudeg, sehingga pengembangan tanaman nangka diharapkan dapat mendukung ketersediaan bahan pangan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Sebagai perangkat daerah yang memiliki salah satu tugas dan fungsi di bidang perkebunan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul memandang penanaman tanaman produktif sebagai langkah strategis dalam mendukung rehabilitasi kawasan terdampak bencana sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Melalui gerakan penanaman ini, diharapkan kawasan terdampak bencana dapat pulih secara bertahap, menjadi lebih hijau, produktif, dan tangguh dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang. Kegiatan ini juga menjadi bentuk edukasi kepada masyarakat bahwa pelestarian lingkungan, penguatan sektor pertanian, mitigasi bencana, serta pelestarian sejarah dan identitas budaya daerah merupakan bagian yang saling berkaitan dalam pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Gunungkidul. *(hf)

Tinggalkan komentar

Skip to content