Purwosari, berlokasi di Kelompok Taruna Tani Tunas Muda Padukuhan Ploso, Giritirto, Purwosari, Gunungkidul melakukan gerakan tanam bawang merah dari biji seluas 1 ha kemarin hari Senin, 16 Desember 2019. Dalam kegiatan ini dihadiri oleh Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Camat Purwosari, BPP Purwosari, Kepala Desa Giritirto, Babinsa dan Babinkamtibmas Giritirto dan tokoh masyarakat. Benih bawang merah berasal dari bantuan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul melalui dana Tugas Pembantuan. Anggota kelompok sangat antusias dalam menerima bantuan benih tersebut dan kali ini untuk pertama kalinya kelompok taruna tani tanam bawang merah dengan biji dan dilakukan secara off season (di luar musim). Dalam budidaya selain didampingi oleh penyuluh pertanian juga didampingi dari produsen benih PT. Panah Merah. Benih disemaikan terlebih dahulu selama 40 hari, selanjutnya dilakukan penanaman di dalam bedengan (lahan). Jumlah bantuan terdiri dari benih sebanyak 68 pak @ 50 gram varietas Lokananta, bantuan pupuk NPK sebanyak 350 kg, dan sekam untuk pesemaian sebanyak 150 zak. Tebar benih dilakukan pada tanggal 6 November 2019. Varietas ini dilepas oleh kementan RI pada tahun 2017, direkomendasikan untuk wilayah dataran rendah, tahan penyakit layu fusarium, umur panen 65-70 hari setelah tanam, bobot per buah 9-12 gram, dan potensi hasil 19-26 ton/ha.
Semangat Taruna Tani dalam mengembangkan tanaman bawang merah diilhami dari musim tanam sebelumnya yang telah berhasil meningkatkan produksi dan pendapatan mereka dari tanaman bawang merah. Menurut ketua Kelompok Taruna Tani, Heri Marwanto, bahwa pada musim sebelumnya kelompok membudidayakan bawang merah seluas 0,1 ha, biaya produksi menghabiskan 7,5 juta, pada saat panen memperoleh pendapatan sebesar 30 juta. Harapannya dengan tanam bawang merah menggunakan biji akan lebih meningkatkan produksi sesuai dengan potensi yang ada, selain itu juga untuk mempersiapkan benih pada musim tanam berikutnya. Kelebihan dari bawang merah biji adalah potensi produksi sangat tinggi dan bulatan umbinya besar sehingga diminati pasar. Mereka berani menanam di luar musim dengan harapan tidak ada pesaing dan pada saat panen akan memperoeh harga yang sangat baik. Kendala dalam budidaya off season adalah sering terjadi serangan hama dan penyakit, namun Taruna Tani akan menerapkan budidaya tanaman sehat dengan lebih banyak menggunakan pupuk organic, penggunaan pestisida hayati maupun nabati, penggunaan mulsa, dan melakukan pengamatan secara periodik. Untuk pengendalian hama dan penyakit akan didampingi dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Purwosari.
Untuk mendukung kegiatan budidaya tanaman hortikultura Kelompok Taruna Tani juga akan mengajukan proposal bantuan sarana prasarana baik benih, pupuk, dan obat obatan serta sarana yang lain seperti sprayer elektrik, cultivator, dan perpompaan. Bantuan tersebut diharapkan dapat sebagai pemantik bagi para pemuda dan pemudi untuk bisa menekuni dunia pertanian, khususnya hortikultura yang mempunyai prospek yang lebih baik, dalam rangka meningkatkan produksi, pendapatan dan kesejahteraan. Dalam kesempatan itu Camat Purwosari juga mengapresiasi kinerja para pemuda dalam bidang pertanian. Sudah saatnya para pemuda dan pemudi mencitai pekerjaan di bidang pertanian, khususnya sub sector perkebunan dan hortikultura yang lebih prospektif. Kita mengambil contoh Desa tetangga, Selopamioro, yang telah berhasil dalam membudidayakan tanaman hortikultura. Diharapkan ini sebagai pijakan untuk mengembangkan hortikultura ke depan, pungkas Camat Purwosari —SGY