Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan yang mempunyai potensi produksi tinggi dan mempunyai nilai ekonomi yang cukup penting. Dalam peningkatan produksi dan kualitas cabai merah terhadap adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang dapat menyebabkan menurunnya tingkat produksi sayuran.
Salah satu faktor penghambat peningkatan produksi cabai adalah adanya serangan hama dan penyakit. Salah satu dampak terbesar dari serangan hama dan penyakit pada tanaman cabai adalah gagal panen. Kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit berkisar 5-30%. Bahkan, jika serangan tersebut sangat fatal, bisa mengakibatkan kegagalan total. Oleh karena itu, pengendalian hama dan penyakit merupakan tahap yang harus dilakukan untuk menunjang keberhasilan usaha budidaya cabai, baik di lahan luas maupun di pekarangan. Namun hal itu juga tidak lepas dari sistem budidaya yang sesuai SOP dan GAP.
Kegiatan bimbingan teknis merupakan bagian dari kegiatan pendampingan untuk mendukung kegiatan strategis kementerian pertanian. Kegiatan pendampingan di Kabupaten Gunungkidul khususnya untuk menyukseskan Program UPSUS CABAI. Salah satu kegiatan pendampingan khususnya pada komoditas cabai dilaksanakan BPP Kecamatan Playen pada tanggal 26-27 Februari 2020. Adapun peserta dari Bimtek ini adalah Poktan-poktan yang pada tahun 2020 ini mendapatkan alokasi bantuan pengembangan baik cabai besar maupun cabai rawit. Kegiatan bimbingan teknis Budidaya Tanaman Cabai Narasumber PPL, Pengamat OPT serta Praktisi Pertanian utamanya dalam hal budidaya Tanaman Cabai. Dengan adanya bimbingan teknis ini, diharapkan kelompok tani dapat mengenal gejala serangan pada tanaman cabai dan cara pengendaliannya. Dalam pengendalian OPT cabai, Ir. Budi Sudartanto menyampaikan bahwa, “kenali dulu gejala serangannya”. Hama dan penyakit utama yang menyerang tanaman cabai diantaranya yaitu kutu daun, thrips, ulat, dan lalat daun. Sedangkan penyakit yang menyerang tanaman cabai diantaranya penyakit keriting, penyakit kuning, dan penyakit layu yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur.
Penyakit keriting dan penyakit kuning disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui serangga vektor. Sedangkan penyakit layu dapat disebabkan oleh bakteri dan jamur. Penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri mempunyai gejala layu dengan tanaman yang masih terlihat hijau, sedangkan penyakit layu yang disebabkan oleh jamur pada pangkal batang terdapat bercak coklat dan tanaman menguning. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri umumnya berbau busuk dan dapat diketahui juga dengan mencelupkan batang tanaman yang terserang kedalam air dan akan mengeluarkan cairan seperti kabut berwarna putih.
Pengenalan gejala serangan OPT ini sangat penting dalam strategi pengendalian. Pengendalian penting dilakukan dari awal dengan menggunakan tanah steril yang di tambah dengan pupuk kandang yang sudah matang dengan ciri pupuk kandang sudah tersimpan lama, berwarna hitam dan tidak berbau. Pengendalian yang ramah lingkungan dapat menggunakan pestisida nabati dengan bahan dasar menggunakan laos, serai wangi, daun tembakau, daun mimba dan bahan lainnya. Bahan dasar lengkuas digunakan untuk tanaman yang terserang penyakit yang disebabkan oleh jamur, sedangkan bahan bawang putih untuk bakteri. Penggunaan daun mimba dan tembakau dapat digunakan sebagai insektisida. Pada kondisi tanaman yang sudah terserang dapat diaplikasikan satu minggu dua kali. Penggunaan pestisida nabati digunakan untuk meminimalisir penggunaaan pestisida kimia yang berdampak negatif baik bagi manusia maupun lingkungan. Bahaya residu pestisida kimia sintesis yang ditimbulkan dapat menyerang syaraf, kulit, pencernaan dan pernafasan.
Agens hayati bersifat parasit terhadap jenis jamur yang lainnya yang bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan dan penyebaan patogen tular tanah penyebab peyakit pada perakaran tanaman yang dapat menimbulkan penyakit busuk akar, busuk pangkal batang sehingga tanaman cabai menjadi layu dengan menggunakan agens hayati diharapkan intensitas layu pada tanaman cabai dapat ditekan. Selain itu agens hayati juga berperan memperbaiki struktur tanah di sekitar perakaran tanaman dengan cara menguraikan zat-zat organik yang ada di dalam tanah selanjutnya zat-zat yang telah terurai akan menjadi ion-ion yang mudah diserap tanaman.
Diharapkan dengan dilaksanakannya Gerakan Pengendalian OPT Hortikultura dapat memberikan dukungan perlindungan hortikultura khususnya tanaman cabai dan bawang merah dalam rangka pengamanan produksi hortikultura dari gangguan/serangan OPT sebagai pelaksanaan dari Selain itu untuk membantu petani dalam memasyarakatkan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) dan penguatan kelembagaan perlindungan tanaman di tingkat petani sehingga menjadi lebih berdaya serta mandiri. Serta sebagai upaya menekan inflasi dari produk pertanian terutama cabai dan bawang merah dan mengurangi impor ketika pasokan produk hortikultura berkurang sedangkan permintaan konsumsi semakin meningkat. (RdH)