Infrastruktur air berupa pengembangan sumber sumber air di Gunungkidul merupakan impian para petani, terlebih para petani hortikultura. Gunungkidul dengan jumlah curah hujan terbatas ( dengan 5 bulan basah dan 7 bulan kering) menurut Smith dan Ferguson diklasifikasikan daerah lahan kering, beruntungnya Gunungkidul juga merupakan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) sehingga dengan adanya batuan kapur banyak simpanan air bawah tanah. Banyak para petani mengharapkan dapat memanfaatkan air tanah tersebut untuk keperluan budidaya pertanian. Seperti halnya poktan Sido Mulyo dusun Jambe, Duwet dan poktan Karya Tani II, Wareng pada tahun 2021 mendapatkan bantuan pemerintah untuk pembangunan irigasi air tanah melalui dana DAK (dana alokasi khusus) yang dilaksanakan secara swakelola oleh poktan pelaksana.
Kepala DPP Ir.Bambang Wisnu Broto beserta jajarannya pada hari Selasa 24 Agustus 2021 melaksanakan monitoring pelaksanaan pembangunan irigasi air tanah di kedua poktan tersebut. Pertama di poktan Sidomulya Jambe Duwet ditemui Ketua Poktan Giyanto dan para anggota. Dalam laporannnya Giyanto ketua poktan menyatakan bahwa dana termin pertama dari bantuan pemerintah telah diterima dan digunakan untuk pengeboran sumur dan telah berhasil keluar air dengan debet cukup besar yang dirasa sangat mencukupi untuk kebutuhan budidaya tanaman hortikultura. Pelaksanaan pengeboran dilakukan di 2 titik dan semuanya telah berhasil mendapatkan air dengan debit air cukup besar.

“Bantuan irigasi air tanah ini sudah lama ditunggu para petani di dusun Jambe untuk mengembangkan tanaman hortikultura khususnya di musim ketiga baik tanaman cabe, sayuran maupun bawang merah. Bantuan yang kami terima digunakan untuk pengeboran air, pembuatan rumah panel, pembuatan bak penampung, dan jaringan distribusi (pipa)” jelas Giyanto. ”Kami mewakili poktan dusun Jambe Duwet mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah yang telah memberikan sarana air juga bantuan kultivator, yang mana sangat memotivasi semangat kami untuk mengembangkan hortikultura sehingga Kalurahan Duwet khususnya Jambe dapat menjadi salah satu sentra hortikultura di Gunungkidul” tambahnya.
Giyanto sendiri dalam budidaya pertanian biasa menerapkan Indeks Pertanaman (IP) 4x dalam setahun dengan pola tanam : padi-bawang merah-bawang merah-sayuran, dan akan menanam padi pada musim hujan di akhir tahun.
Di lokasi kedua Poktan Karya Tani 2 Wareng, juga telah selesai dilaksanakan pengeboran 2 titik sumur dan berhasil keluar air dengan debet cukup besar. Bahkan saking semangatnya petani secara swadaya menambah satu titik pengeboran sehingga total mendapatkan 3 titik sumur untuk irigasi air tanah. Selain itu Timbul ketua poktan Karya Tani 2 menambahkan bahwa para petani di poktannya secara swadaya pada tahun 2018 sebelum pandemi bergotong royong iuran menarik listrik masuk ke jalur lahan sehingga gayung bersambut dengan program pemerintah dalam pembangunan sarana air ini listriknya jadi mudah. Sama dengan petani dusun Jambe poktannya juga berharap nantinya Wareng bisa menjadi daerah hortikultura pula.
Sementara itu Ir.Bambang Wisnu Broto Ka DPP dalam arahannya mengharapkan para petani selalu mensyukuri bantuan pemerintah yang diberikan sehingga secara bersungguh sungguh dilaksanakan dan mendapatkan hasil yang optimal. Dirinya berharap sebelum musim hujan tiba irigasi air tanah sudah selesai dan dimanfaatkan segera setelah mendapatkan airnya, sehingga kegiatan pertanian hortikultura dapat berkembang dan meningkatkan pendapatan para petani.
Terpisah Sugiyanto,SP. Kasi produksi hortikultura menjelaskan bahwa saat ini di Gunungkidul marak budidaya hortikultura khususnya bawang merah karena mendapat hasil panen dengan harga yang menguntungkan petani. Mulai dari daerah pantai di Tanjungsari, Tepus dan Panggang, serta Purwosari berkembang pertanaman hortikultura. Luas tanam bawang merah sampai bulan Agustus mencapai 41 Ha.—(RY)