Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Dorong Penguatan Sektor Peternakan melalui Perlindungan Sosial dan Kesehatan Hewan

WONOSARI – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor peternakan daerah melalui penyelenggaraan Sarasehan Peternak yang berlangsung di Bangsal Sewoko Projo, Kapanewon Wonosari, Rabu (6/5/2026). Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk mengintegrasikan pengembangan potensi peternakan dengan perlindungan sosial bagi petani dan peternak, sekaligus meningkatkan sistem kesehatan hewan di Gunungkidul.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Rismiyadi, menyampaikan bahwa sarasehan ini merupakan langkah konkret dalam mendukung arahan Bupati Gunungkidul untuk menjadikan sektor peternakan sebagai salah satu pilar utama perekonomian masyarakat.

“Peternakan memiliki peran besar dalam menopang kesejahteraan masyarakat Gunungkidul. Karena itu, kami tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga perlindungan bagi peternak melalui jaminan sosial ketenagakerjaan dan penguatan kesehatan ternak,” ujar Rismiyadi.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, dalam arahannya menegaskan bahwa petani dan peternak merupakan fondasi penting ekonomi daerah yang perlu mendapat perhatian serius, baik dari sisi pemberdayaan maupun perlindungan.

“Peternak dan petani adalah kekuatan utama keluarga dan daerah. Pemerintah harus hadir memberi perlindungan nyata agar mereka bisa bekerja dengan aman, sehat, dan semakin sejahtera,” kata Bupati Endah.

Dalam kegiatan tersebut, Dinas Pertanian dan Pangan mendorong perluasan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi peternak, setelah sebelumnya Pemerintah Kabupaten melalui dana APBD DBHCHT 2026 telah memberikan perlindungan kepada 200 petani tembakau. Program ini dinilai penting untuk memberikan rasa aman kepada para peternak yang memiliki risiko kerja tinggi.

Sebagai bentuk nyata manfaat program jaminan sosial, dilakukan penyerahan simbolis santunan Jaminan Kematian (JKM) kepada ahli waris peternak yang meninggal dunia. Selain itu, perlindungan BPJS Ketenagakerjaan juga diwajibkan bagi mahasiswa praktik lapangan (PKL/Koas) di lingkungan Dinas Pertanian dan Pangan sebagai langkah mitigasi risiko kerja.

Menghadapi momentum tradisi Gumbregan dan musim Idul Adha 2026, Dinas Pertanian dan Pangan juga memperkuat kampanye kebersihan kandang, kesehatan ternak, serta pengawasan lalu lintas hewan kurban. Bersama Fakultas Kedokteran Hewan UGM, dinas menyiapkan tenaga medis veteriner dan mahasiswa koas guna memastikan proses pemotongan hewan kurban berjalan sesuai standar kesehatan masyarakat veteriner.

Bupati Endah juga mengajak seluruh peternak untuk terus menjaga kualitas ternak lokal dan memanfaatkan momentum budaya serta keagamaan sebagai penguat identitas Gunungkidul sebagai sentra ternak sehat.

“Gunungkidul harus menjadi gudang ternak sehat. Dengan semangat kerja keras dan kebersamaan, sektor peternakan kita akan semakin maju dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Rismiyadi menambahkan bahwa kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan ternak terus meningkat, salah satunya melalui pemanfaatan aplikasi “Lapor Dok” untuk melaporkan kematian ternak.

“Peningkatan laporan kematian ternak yang kami terima menunjukkan perubahan pola pikir masyarakat. Peternak kini lebih memilih melapor untuk penanganan resmi daripada menjual ternak mati secara ilegal, sehingga ini menjadi langkah positif dalam menjaga keamanan pangan,” jelasnya.

Data Dinas Pertanian dan Pangan menunjukkan bahwa sapi Peranakan Ongole (PO) sebagai ternak unggulan lokal Gunungkidul memiliki ketahanan lebih baik terhadap penyakit. Keunggulan ini menjadi salah satu fokus pengembangan peternakan daerah ke depan.

Sebagai bentuk perhatian pemerintah, Dinas Pertanian dan Pangan juga menyalurkan tali asih kepada 22 peternak yang mengalami kerugian akibat kematian ternak karena penyakit menular tertentu sesuai ketentuan Peraturan Bupati.

Melalui sarasehan ini, Dinas Pertanian dan Pangan berharap terbangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, peternak, akademisi, dan lembaga perlindungan sosial dalam mewujudkan Gunungkidul sebagai sentra peternakan sehat, produktif, dan berdaya saing di Daerah Istimewa Yogyakarta. *(hf)

Tinggalkan komentar

Skip to content