GUNUNGKIDUL – Petani kakao Kabupaten Gunungkidul kembali menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Festival Cokelat 4.0 Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam dua kategori lomba yang digelar, yakni Lomba Kebun Kakao dan Lomba Mutu Biji Kakao, kelompok tani asal Gunungkidul berhasil meraih sejumlah penghargaan sebagai bukti keberhasilan pengelolaan budidaya maupun peningkatan kualitas hasil panen kakao.
Pada Lomba Kebun Kakao Tingkat DIY Tahun 2026, Kelompok Tani (KT) Sido Dadi Padukuhan Gumawang, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk berhasil meraih Juara I. Sementara itu, pada Lomba Mutu Biji Kakao, petani kakao Gunungkidul juga menunjukkan prestasi yang tidak kalah membanggakan dengan raihan Juara I oleh KT Ngudi Raharjo 2 dari Padukuhan Plosokerep, Kalurahan Bunder, Kapanewon Patuk, serta Juara III oleh KT Ngupadi Koyo dari Padukuhan Sawur, Kalurahan Sawahan, Kapanewon Ponjong.
Kedua lomba tersebut merupakan rangkaian kegiatan Festival Cokelat 4.0 Tahun 2026. Proses penilaian telah dilaksanakan pada Juni 2026, sedangkan pengumuman dan penyerahan penghargaan kepada para pemenang dilaksanakan pada rangkaian Festival Cokelat 4.0 tanggal 10–11 Juli 2026.

Lomba Kebun Kakao bertujuan menjadi sarana evaluasi sekaligus memotivasi kelompok tani dalam menerapkan budidaya kakao sesuai Standar GAP (Good Agricultural Practices) sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas kebun kakao. Penilaian dilakukan terhadap dua aspek utama, yakni aspek budidaya dan aspek kelembagaan. Aspek budidaya meliputi penerapan SOP mulai dari pratanam, pemeliharaan tanaman, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), penanganan kebun pada musim hujan maupun kemarau, hingga kegiatan pascapanen. Adapun aspek kelembagaan mencakup kelengkapan administrasi kelompok tani, keaktifan organisasi, serta riwayat pelatihan dan pendampingan yang diikuti oleh para petani. Pemenang lomba kebun kakao juga diharapkan menjadi percontohan bagi petani kakao yang lain tentang standar pemeliharaan kebun yang baik.
Sementara itu, Lomba Mutu Biji Kakao menitikberatkan pada kualitas biji kakao kering fermentasi yang dihasilkan petani. Penilaian dilakukan terhadap proses fermentasi, tingkat kekeringan biji sesuai standar, kondisi fisik biji seperti tingkat keutuhan atau kerusakan, serta mutu biji kakao secara keseluruhan. Melalui lomba ini, petani didorong untuk tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menghasilkan biji kakao dengan kualitas yang memenuhi standar sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi.


Keberhasilan kelompok tani asal Gunungkidul dalam kedua kategori lomba tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas komoditas kakao tidak hanya ditentukan oleh pengelolaan kebun yang baik, tetapi juga oleh penerapan penanganan pascapanen yang tepat sehingga menghasilkan biji kakao bermutu.
Prestasi tersebut juga tidak terlepas dari pembinaan dan pendampingan yang selama ini dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul bersama Penyuluh Pertanian. Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan melalui penyuluhan, bimbingan teknis, penerapan budidaya sesuai SOP, pengendalian hama dan penyakit tanaman, penguatan kelembagaan kelompok tani, serta peningkatan kemampuan petani dalam penanganan pascapanen, termasuk fermentasi dan pengolahan biji kakao.
Keberhasilan ini diharapkan menjadi motivasi bagi kelompok tani kakao lainnya di Kabupaten Gunungkidul untuk terus meningkatkan kualitas budidaya maupun mutu hasil panen. Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul berkomitmen untuk terus memperkuat pembinaan dan pendampingan kepada petani kakao guna meningkatkan daya saing komoditas kakao sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan petani.