WONOSARI – Pertanian Gunungkidul tidak cukup hanya dituntut mampu menghasilkan pangan. Di tengah perubahan iklim, perkembangan teknologi, dan tuntutan pasar, sektor pertanian juga harus mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Pesan tersebut mengemuka saat Bupati Gunungkidul membuka Gelar Potensi Pertanian Kabupaten Gunungkidul Tahun 2026 di Halaman Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul, Selasa (22/9/2026) yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Tani Nasional ke-66 sekaligus menyambut Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi kepada petani, buruh tani, dan seluruh pihak yang selama ini menopang ketersediaan pangan. Menurutnya, keberadaan mereka tidak hanya penting bagi ketahanan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari kekuatan ekonomi daerah.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus mendorong berbagai program yang berpihak pada penguatan sektor pertanian dan usaha masyarakat. Di tingkat daerah, dukungan tersebut antara lain diwujudkan melalui program Tani Makmur dan UMKM Berdaya.
Dukungan juga datang melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat. Dalam kesempatan tersebut, Bupati menyampaikan sejumlah dukungan strategis dari Kementerian Pertanian bagi pengembangan pertanian Gunungkidul.
Salah satunya berupa penunjukan Gunungkidul sebagai salah satu dari 44 kabupaten/kota di Indonesia yang mendapatkan dukungan sarana pabrik bioetanol berbasis jagung dan ubi kayu. Program ini diarahkan untuk mengembangkan potensi komoditas pertanian sekaligus mendukung penguatan energi berbasis sumber daya lokal.
Selain itu, Gunungkidul memperoleh dukungan benih jagung untuk pengembangan lahan seluas 1.000 hektare serta alokasi Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan). Pemerintah juga mendorong penguatan serapan hasil pertanian melalui kerja sama dengan BUMN dan sektor swasta guna menjaga stabilitas harga komoditas, termasuk jagung dan ubi kayu.

Kearifan Lokal Bertemu Teknologi
Menurut Bupati, modernisasi pertanian tidak berarti meninggalkan potensi dan kearifan lokal yang telah berkembang di masyarakat. Sebaliknya, keduanya perlu dipadukan agar pertanian semakin produktif dan memiliki nilai ekonomi.
“Kekuatan sejati bangsa ini berakar dari bumi dan pertanian kita sendiri. Mari kita padukan kearifan lokal benih unggul kita, seperti Padi Segreng Handayani, dengan sentuhan teknologi modern smart farming serta kreativitas generasi muda,” tegas Bupati.
Pesan tersebut menjadi salah satu semangat yang dibawa dalam Gelar Potensi Pertanian 2026. Selain menampilkan berbagai komoditas dan produk unggulan, kegiatan ini juga menghadirkan ruang bagi Petani Milenial serta inovasi teknologi pertanian.
Regenerasi petani menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Generasi muda didorong melihat pertanian tidak semata sebagai pekerjaan tradisional, tetapi sebagai bidang usaha yang dapat dikembangkan dengan teknologi, inovasi, kreativitas, dan pendekatan bisnis.

Tidak Berhenti di Produksi
Gelar Potensi Pertanian juga menjadi ruang untuk mempertemukan petani, kelompok tani, pelaku UMKM, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat.
Sejumlah komoditas ditampilkan bersama berbagai produk olahannya. Upaya tersebut sejalan dengan dorongan peningkatan nilai tambah produk pertanian agar komoditas lokal tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Di sisi lain, berbagai kegiatan edukasi turut digelar, mulai dari seminar hingga demonstrasi teknologi budidaya. Masyarakat juga dapat mengenal lebih dekat berbagai potensi pertanian dan pangan yang dikembangkan di Gunungkidul.
Bagi petani dan pelaku UMKM, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperluas jejaring dan membuka akses pasar.
Tidak hanya aspek ekonomi, gelaran ini turut menghadirkan kekayaan budaya agraris Gunungkidul. Tradisi dan seni yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat petani menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Rangkaian Hari Tani hingga Akhir September
Gelar Potensi Pertanian merupakan salah satu agenda dari rangkaian peringatan Hari Tani Nasional 2026 yang diselenggarakan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul.
Sebelumnya, Jagongan Pertanian telah digelar pada 10 September 2026 di Bangsal Sewokoprojo. Pelatihan akuaponik bersama Mark Sungkar tersebut diikuti sekitar 300 petani.
Kemudian pada 12 September 2026 digelar Kontes Ternak Sapi di Pasar Hewan Siyonoharjo dengan kelas Sapi Peranakan Ongole (PO) dan Sapi Ekstrem/Bobot.
Setelah Gelar Potensi Pertanian pada 22–23 September, akan dilanjutkan puncak Peringatan Hari Tani pada 24 September yang dikonsep dalam acara seminar dan do’a bersama. Rangkaian Hari Tani akan dilanjutkan dengan Vaksinasi Rabies Gratis pada 28 September 2026 di Puskeswan Wonosari.
Rangkaian tersebut menjadi gambaran bahwa pembangunan pertanian tidak hanya berbicara mengenai produksi. Ada petani yang perlu diperkuat, produk yang perlu diberi nilai tambah, teknologi yang perlu dikembangkan, pasar yang perlu diperluas, serta generasi muda yang perlu dipersiapkan untuk melanjutkan sektor pertanian.
Melalui Gelar Potensi Pertanian 2026, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berharap berbagai potensi tersebut dapat semakin dikenal, dikembangkan, dan memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya para petani dan pelaku usaha pertanian di Gunungkidul.