WONOSARI – Media sosial bukan sekadar ruang berbagi informasi. Di tangan aparatur yang kreatif, platform digital dapat menjadi jembatan pelayanan publik, sarana pelestarian budaya, hingga sumber inspirasi bagi petani dan peternak. Semangat inilah yang ditunjukkan tiga Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul yang berhasil menembus 10 besar nominator Kategori A Digital Talent Award (DTA) Kabupaten Gunungkidul Tahun 2026.
Melalui karya dengan pendekatan yang berbeda, mereka menghadirkan konten digital yang tidak hanya informatif, tetapi juga dekat dengan kebutuhan masyarakat dan kekayaan lokal Gunungkidul.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa komunikasi publik yang kreatif dapat mengambil peran penting dalam memperluas jangkauan informasi, meningkatkan pemahaman masyarakat, serta mendukung kualitas pelayanan pemerintah di era digital.
Ajang DTA 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Komunikasi dan Informatika menjadi wadah apresiasi bagi kreativitas pengelola media sosial Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Ajang ini juga mendorong pemanfaatan media sosial untuk mendukung program strategis daerah dan meningkatkan kualitas komunikasi pemerintah kepada masyarakat.
Dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, tiga karya berikut berhasil masuk dalam daftar 10 besar nominator Kategori A, yaitu pengelola media sosial instansi pemerintah.
1. Festus Tata Reynara – “LAPOR DOK”: Mempermudah Aduan, Mempercepat Respons
Bagaimana jika gangguan kesehatan ternak dapat dilaporkan dengan lebih mudah melalui layanan digital? Gagasan inilah yang diangkat Festus Tata Reynara melalui karya LAPOR DOK.
Karya ini memperkenalkan inovasi layanan berbasis QR Code yang memudahkan masyarakat, khususnya peternak, untuk melaporkan gangguan kesehatan ternak, dugaan penyakit menular, maupun kejadian luar biasa kepada dokter hewan.
Dikemas dalam video edukatif yang ringkas dan mudah dipahami, LAPOR DOK menunjukkan bagaimana konten media sosial dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenali dan memanfaatkan layanan pemerintah. Lebih dari sekadar menyampaikan informasi, karya ini membawa pesan penting tentang respons cepat terhadap persoalan kesehatan hewan untuk mendukung keamanan pangan asal hewan.
2. Iqfan Yandhi Himawan – “Gumbregan”: Merawat Tradisi, Menguatkan Identitas Gunungkidul
Di tengah derasnya arus digitalisasi, kearifan lokal tetap memiliki tempat penting untuk diceritakan dan diwariskan. Pesan tersebut hadir dalam karya Iqfan Yandhi Himawan berjudul Gumbregan.
Melalui narasi budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat, karya ini mengangkat tradisi Gumbregan sebagai wujud rasa syukur, doa, gotong royong, serta kepedulian terhadap hewan ternak yang dikenal masyarakat sebagai Rojo Koyo.
Konten ini tidak sekadar memperkenalkan tradisi lokal, tetapi juga mengajak masyarakat melihat kembali nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, termasuk tanggung jawab dalam memelihara ternak sebagai bagian penting dari kehidupan dan penghidupan masyarakat.
Dengan pendekatan yang komunikatif, Gumbregan menjadi contoh bagaimana media sosial pemerintah dapat dimanfaatkan untuk merawat identitas budaya sekaligus mendekatkan informasi sektor pertanian dan peternakan kepada generasi masa kini.
3. Eleonora Ikradia Karunia Mahatantri – “El Nino Bukan Penghalang”: Menguatkan Semangat Petani Menghadapi Perubahan Iklim
Tantangan perubahan iklim menuntut petani untuk terus beradaptasi. Kondisi tersebut menjadi fokus karya Eleonora Ikradia Karunia Mahatantri melalui El Nino Bukan Penghalang.
Karya ini mengangkat edukasi dan motivasi bagi petani agar tetap tangguh menghadapi kondisi iklim, sekaligus mendorong penerapan langkah-langkah yang mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.
Pesan yang dibangun sederhana, tetapi relevan: tantangan iklim perlu dihadapi dengan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan strategi yang tepat. Melalui konten digital, informasi ini diharapkan dapat tersampaikan dengan lebih menarik dan mudah dijangkau oleh masyarakat.
Karya ini sekaligus menegaskan bahwa komunikasi digital dapat menjadi sarana pendukung edukasi pertanian, terutama dalam membangun kesadaran dan kesiapan petani menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Bukan Sekadar Viral, tetapi Harus Memberi Manfaat
Keberhasilan tiga ASN tersebut menembus 10 besar menjadi momentum untuk memperkuat peran media sosial sebagai bagian dari pelayanan publik. Konten pemerintah tidak cukup hanya menarik perhatian, namun informasi yang disampaikan juga harus relevan, mudah dipahami, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Mulai dari kemudahan menyampaikan laporan kesehatan ternak, pelestarian tradisi, hingga edukasi menghadapi tantangan perubahan iklim, ketiga karya tersebut menunjukkan bahwa komunikasi digital dapat menjembatani program pemerintah dengan kebutuhan masyarakat.
Bagi Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, capaian ini menjadi dorongan untuk terus mengembangkan komunikasi publik yang inovatif, responsif, dan berorientasi pada manfaat. Kehadiran konten kreatif diharapkan mampu memperluas akses informasi sekaligus mendukung pendampingan kepada petani dan peternak.
Perjalanan Belum Berakhir
Persaingan DTA Kabupaten Gunungkidul Tahun 2026 masih berlanjut. Sepuluh nominator terpilih pada masing-masing kategori akan melalui tahap penilaian berikutnya untuk menentukan peraih Juara 1, 2, dan 3, yang direncanakan diumumkan dalam seremoni penghargaan DTA 2026.
Dengan capaian ini, tiga ASN Dinas Pertanian dan Pangan telah membawa tiga gagasan penting ke panggung apresiasi digital daerah: pelayanan yang lebih mudah, budaya yang tetap terjaga, dan pertanian yang semakin adaptif.
Sebab, ketika kreativitas bertemu dengan kebutuhan masyarakat, konten digital tidak berhenti sebagai tontonan. Ia dapat menjadi sarana edukasi, penghubung pelayanan, dan penggerak perubahan.
Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul berharap semangat inovasi ini terus tumbuh, sehingga media sosial pemerintah semakin hadir sebagai sumber informasi yang bermanfaat, tepercaya, dan dekat dengan masyarakat.