Workshop Stop Boros Pangan Dorong Gerakan Penyelamatan Pangan di Gunungkidul

Pada hari Kamis, 12 Februari 2026 bertempat di Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, dilaksanakan kegiatan Workshop Stop Boros Pangan.

Workshop Stop Boros Pangan dihadiri Bapak Kepala Bidang Ketahanan Pangan (drh. Yanno Findria Sukarni) serta narasumber Bapak Agung Suprihanto, SP (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY), Bapak M Hendro Utomo, SS, MBA (CEO Foodbank of indonesia/FOI Jakarta), dan Vera Asti Rahmawati (Poltekkes Kemenkes Yogyakarta)

Peserta workshop terdiri atas perwakilan TP PKK Kabupaten, TP PKK Kapanewon, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Gunungkidul,  pengusaha catering/PPJI dan hotel di Wonosari, Universitas Gunungkidul (UGK), serta bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Gunungkidul.

Dalam sambutannya Bapak Kepala Bidang Ketahanan Pangan menyampaikan bahwa kegiatan workshop ini merupakan bagian dari upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan boros pangan dan memberikan edukasi dalam pengolahan dan pemanfaatan pangan berlebih/food waste agar masyarakat lebih bijak menghargai pangan. Pelaksanaan kegiatan ini merupakan tindak lanjut Instruksi Gubernur DIY Nomor 33/INSTR/2021 tentang Rencana Aksi Penanganan Food Loss (Pangan yang tercecer) dan Food Waste (Pemborosan pangan). Melalui workshop ini diharapkan seluruh pemangku kepentingan dari unsur pentahelix yaitu Akademisi, Media, Pebisnis, Masyarakat, Birokrasi dan LSM, dapat berperan aktif dalam mendukung kebijakan tersebut.

Narasumber Bapak Agung Suprihanto menyampaikan materi tentang Gerakan Penyelamatan Pangan di DIY, dimana gerakan ini merupakan langkah yang strategis mengingat DIY sebagai salah satu pusat pariwisata dan pendidikan yang memiliki potensi timbulan sampah makanan (food waste) cukup tinggi. DPKP DIY juga secara rutin melalui kegiatan ini mengedukasi masyarakat untuk mengurangi sisa makanan dari proses produksi hingga konsumsi.

Bapak Hendro Utomo, dalam materinya yang berjudul Peran FOI dalam Penyelamatan Pangan, antara lain bahwa FOI berperan sebagai penghubung antara pihak yang memiliki surplus makanan (hotel, restoran, supermarket, dll) dengan masyarakat yang membutuhkan. FOI mengumpulkan makanan yang layak makan tetapi tidak terjual/berlebih dan mendistribusikan secara sistematis. FOI juga aktif melakukan edukasi/sosialisasi kepada masyarakat untuk mengubah perilaku boros pangan.

Narasumber terakhir dari Politeknik Kesehatan Yogyakarta menyampaikan materi praktek membuat steak tempe dan stick kentang tahu. Diharapkan dengan praktek ini peserta bisa berkreasi mengolah dan memanfaatkan makanan yang berlebih sehingga bisa dikonsumsi kembali dan mencegah terjadinya food waste.

Harapan besar dari langkah awal yang kecil ini adalah bagaimana semua lini unsur masyarakat dapat berkomitmen untuk mengantisipasi sisa pangan berlebih agar tidak terjadi food waste guna menjaga tegaknya salah satu  pilar Ketahanan Pangan yaitu pemanfaatan pangan di Kabupaten Gunungkidul. *(FE)

Tinggalkan komentar

Skip to content