Kewaspadaan Terhadap Munculnya Berbagai Penyakit Hewan Ternak Pada Pergantian Musim (Pancaroba)

Memasuki bulan September-oktober ini kewaspadaan peternak harus lebih ditingkatkan lagi, munculnya berbagai penyakit yang terkait pergantian musim pada ternak unggas maupun ternak ruminansia biasanya muncul, antara lain penyakit New castle disease (ND) dan Avian Influenza (AI) pada unggas serta penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF), Septicemiia Epizootika (SE)  pada ruminansia.

1. Penyakit Newcastle Disease (ND)

Penyakit unggas besar yang satu ini disebabkan oleh virus ND  termasuk RNA Virus, yang Pertama kali diisolasi dari kota Newcastle on Tyne Inggris pada tahun 1926. Penyakit ini mempunyai beberapa nama lain di berbagai daerah di Indonesia antaralain Tetelo, Kek, koyan, dll.

Gejala klinis yang nampak akan bervariasi tergantung jenis virus dan tingkat serangannya. Namun gejala yang paling sering terlihat pada unggas yang terserang biasanya hidung barair (pilek) tenggorokan terdapat eksudat yang menimbulkan suara ngorok, demam, gejala digesti berupa perubahan warna serta konsistensi feses , tubuh melemah, sayap terkulai ke bawah, leher terpuntir (tortikolis) dan akhirnya mati. Masa inkubasi penyakit ini antara 2-12 hari.

Patologi anatomi menunjukkan perdarahan ptechiae  pada pericard, subpleura, tembolok terutama daerah proventriculus, serta usus secara umum.

Uji isolasi dilakukan terhadap swab eksudat dari hidung, trachea, serta kloaka; sedang uji serologis dengan mengukur kadar antibody dari serum darah unggas, dengan metoda uji HI, UJI ELISA. Kadar antigen diperiksa dengan uji RAT dan  Rapid tes.

Pengobatan terhadap penyakit ND bukanlah membunuh penyakitnya itu sendiri, melainkan hanyalah upaya membuat kondisi badan cepat membaik, dan merangsang nafsu makan, dengan pemberian vitamin dan mineral, serta mencegah adanya infeksi sekunder dengan pemberian antibiotika.

Pencegahan dengan melakukan vaksinasi secara teratur dianggap sebagai langkah yang tepat untuk memberikan perlindungan sebelum virus datang menyerang. Tentu saja ditunjang dengan upaya biosekuriti, menjaga kebersihan dan sanitasi kandang.

2. Penyakit Avian Influenza (AI).

Nama lain penyakit flu burung , bersifat zoonotik, Lebih sering disebabkan oleh virus subthype H5N1. Virus subthype ini lebih bersifat patogen sehingga disebut Highly Pathogenic H5N1  Avian Influenza (HPAI) dan Sudah menyebar secara luas di berbagai belahan dunia ini, dengan angka kematian yang cukup tinggi yang dikhawatirkan menjadi penyakit pandemi.

Gejala klinis dari unggas yang terserang virus sangat bervariasi antara tidak ada gejala (LPAI), gejala ringan , maupun yang menunjukkan gejala yang parah. Gejala ringan kadangantara lain adannya perubahan susunan bulu –bulu acak, penurunan nafsu makan, bersin, ngorok dan penurunan kualitas kerabang telur serta penurunan produksi telur. Gejala yang parah (HPAI) biasanya menyerang sebagian besar organ interna mengakibatkan perubahan warna dan konsistensi feses dengan tingkat mortalitas mencapai 90% bahkan 100%. Perubahan warna kebiruan bisa juga nampak pada kulit yang tidak ditumbuhi oleh bulu seperti pada jengger, pial. Perdarahan titik (ptekhie) kadang nampak pada telapak kaki. Masa inkubasi dapat hanya dalam waktu 48 jam.

Cara penularan virus kontak langsung dengan unggas tertular, atau lewat kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi oleh virus, debu, sisa pakan, sisa air minum, sepatu kandang bahkan kendaraan yang terkontaminasi.

Pengobatan, pencegahan dan pengendalian penyakit ini sepertihalnya pada tata laksana penyakit ND yakni dengan tindakan biosekurity, desinfeksi, depopulasi serta vaksinasi. Vaksinasi dilakukan  menggunakan sediaan vaksin AI inaktif, Tindakan Pemusnahan unggas secara selektif (depopulasi)  dipandang perlu untuk menekan jumlah sumber infeksi.

3.  Penyakit Demam Tiga Hari , Bovine Ephemeral Fever (BEF).

Penyakit ini ditandai dengan adanya demam mendadak, kekaukan pada persendian dan biasanya berlangsung akut selama 3 hari (three day sickness), setelah itu akan dapat sembuh dengan sendirinya bila tiadak ada infeksi sekunder. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari keluarga Rhabdovirus dari virus RNA , masa inkubasi 7-10 hari. Penyakit yang biasanya menyerang  ruminansia sapi dan kerbau ini ditularkan oleh vektor serangga (arthropod borne viral disease), nyamuk golongan Culicoides sp., Aedes sp., dan Culex sp.

Pengobatan terhadap agen penyakit ini seperti halnya penyakit viral pada umumnya.  Sanitasi, biosekurity untuk menekan jumlah vektor. Vaksinasi untuk BEF belum tersedia.

 4. Penyakit ngorok, Septicaemia Epizootika (SE)

Penyakit SE biasanya menyerang ruminansia besar seperti sapi dan kerbau, bersifat akut dan fatal, menyebabkan kematian ternak,  tingkat mortalitas bisa mencapai 50-100%.                       di samping penurunan berat badan dan kehilangan tenaga kerja pada hewan pekerja.

Penyakit SE disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida. Termasuk bakteri gram negatif, berbentuk kokoid bipolar, berkapsul,tidak membentuk spora, bersifat non motil.

Hewan yang terserang SE  akan menunjukkan salah satu gejala klinis dari tiga bentuk gejala yaitu:

  1. Bentuk busung pada daerah kepala, leher bawah, gelambir, kejadian biasanya cepat (hanya 3 hari) dan akhirnya hewan mati, sebelum mati biasanya mengalami sesak nafas (dyspnoe), timbul suara ngorok, gigi gemeretak.
  2. Bentuk Pektoral: terjadi bronchopneumoni yang ditandai batuk, eksudat hidung, pernafasan cepat dan basah. Ini biasanya berlangsung antara 1-3 minggu.
  3. Bentuk intestinal, merupakan gabungan bentuk busung dan bentuk pektoral.

Adapun cara penularan penyakit SE ini adalah bisa secara langsung melalui kontak dengan hewan sakit, melalui ekskreta (air ludah, urin dan feses)  maupun tak langsung melalui benda-benda tercemar seperti makanan, minuman maupun alat-alat kandang.

Faktor predisposisi yang penting adalah stres karena kedinginan, kualitas pakan rendah, berdesakan dalam kandang, kelelahan fisik pada hewan pekerja, kelelahan dalam pengangkutan, dapat menmicu terjadinya infeksi

Bahan sampel untuk pemeriksaan laboratorium berupa sediaan ulas darah, juga cairan/eksudat busung, sumsum dari tulang panjang juga sangat baik diperiksa karena merupakan jaringan yang paling akhir mengalami kematian. 

Pengobatan penyakit SE ini dengan penyuntikan antibiotika misalnya  streptomisin sebanyak 10 mg secara IM; preparat lain misalya sulfametasin 1mg setiap 7.5 kg berat badan.

Pencegahan penyakit SE ini dengan melaksanakan vaksinasi oil-adjuvant misal Vaksin produksi PUSVETMA  dosis 3 ml IM, pada daerah tertular pada saat tidak ada kejadian penyakit, paling tidak sekali dalam setahun.(Dari berbagai sumber). —ER

Tinggalkan komentar

Skip to content