WONOSARI (10/09/2026) – Kabupaten Gunungkidul memiliki potensi pertanian yang besar dan terus membutuhkan pengembangan inovasi agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Seiring dengan dinamika kondisi cuaca dan kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya, inovasi teknologi menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
Salah satu inovasi yang mulai diperkenalkan dan dikembangkan adalah aquaponik, sebuah sistem budidaya yang memadukan pemeliharaan ikan dan tanaman dalam satu ekosistem. Teknologi ini menjadi perhatian karena menawarkan konsep pemanfaatan air dan lahan secara lebih efisien, sekaligus membuka peluang produksi pangan dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Dalam upaya memperkenalkan teknologi tersebut kepada masyarakat, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul berkolaborasi dengan Easy Grow dan Bank BPD DIY menghadirkan pakar aquaponik Mark Sungkar dalam kegiatan “Jagongan Pertanian dan Pelatihan Aquaponik bersama Mark Sungkar” Kamis (10/09/2026) di Bangsal Sewokoprojo yang diikuti kurang lebih 300 masyarakat dan pelaku pertanian di Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran dan berbagi pengalaman mengenai penerapan aquaponik, sekaligus membuka wawasan mengenai peluang pengembangan pertanian berbasis teknologi.


Bupati Gunungkidul menyampaikan bahwa inovasi pertanian menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan potensi pertanian daerah sekaligus menjawab tantangan pemanfaatan sumber daya.
“Gunungkidul memiliki potensi pertanian yang sangat besar, namun kita juga menghadapi berbagai tantangan, salah satunya berkaitan dengan ketersediaan dan juga efisiensi pemanfaatan air. Karena itu kita membutuhkan inovasi-inovasi baru di bidang pertanian yang mampu menjawab tantangan tersebut. Sekaligus yang mampu membuka peluang bagi masyarakat untuk menghasilkan pangan dan meningkatkan ekonomi keluarga,” ungkap Bupati.
Menurutnya, aquaponik menjadi salah satu inovasi yang menarik untuk dikembangkan karena memadukan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat dapat belajar memanfaatkan air dan lahan secara lebih efisien sekaligus menghasilkan lebih dari satu komoditas pangan.
“Aquaponik menjadi salah satu inovasi menarik untuk kita kembangkan melalui perpaduan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem. Kita belajar bagaimana memanfaatkan air dan lahan secara lebih efisien,” lanjutnya.
Aquaponik bekerja dengan prinsip sirkulasi air. Air dari kolam ikan yang mengandung nutrisi dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Selanjutnya, air melalui proses penyaringan dan pengelolaan sebelum kembali ke dalam sistem. Dengan demikian, air dapat digunakan secara berulang dalam satu rangkaian budidaya.
Konsep tersebut memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan sistem produksi pangan yang mengintegrasikan ikan dan tanaman dalam satu unit. Selain memenuhi kebutuhan pangan, hasil budidaya juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif, baik dalam skala rumah tangga, kelompok masyarakat, maupun usaha komersial.
Bupati menilai pengenalan teknologi pertanian seperti aquaponik penting untuk terus dilakukan, terutama dalam mendorong masyarakat memanfaatkan lahan yang tersedia secara produktif.
“Teknologi seperti ini sangat relevan untuk terus dikenalkan kepada masyarakat terutama dalam mendorong pemanfaatan lahan secara produktif dan pengembangan pertanian yang lebih hemat sumber daya,” tegasnya.
Kehadiran Mark Sungkar sebagai narasumber diharapkan memberikan pengetahuan praktis mengenai pengembangan aquaponik, mulai dari prinsip dasar sistem, pemilihan jenis ikan dan tanaman, pengelolaan air, hingga peluang pengembangannya sebagai usaha.
Kolaborasi Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul dengan Easy Grow dan Bank BPD DIY juga menunjukkan pentingnya sinergi lintas sektor dalam pengembangan inovasi pertanian. Pemerintah daerah berperan dalam penguatan kapasitas dan pendampingan masyarakat, dunia usaha dapat mendukung pengembangan teknologi, sementara sektor perbankan memiliki peran dalam membuka peluang akses pembiayaan bagi pengembangan usaha produktif.
Pengembangan aquaponik ke depan diharapkan tidak berhenti pada pengenalan teknologi, tetapi dapat dilanjutkan melalui penerapan dan pengembangan di masyarakat. Sistem ini dapat dikaji untuk diterapkan dalam berbagai skala, mulai dari pemanfaatan pekarangan rumah, kelompok masyarakat, kelompok tani, demplot, hingga pengembangan usaha pertanian yang berorientasi pasar.
Selain sebagai alternatif teknologi budidaya, aquaponik juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan pertanian modern kepada generasi muda. Integrasi teknologi, budidaya ikan, tanaman, pengelolaan air, serta peluang usaha dapat menciptakan model pertanian yang lebih menarik dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Melalui penguatan inovasi dan kolaborasi berbagai pihak, Kabupaten Gunungkidul diharapkan mampu terus mengembangkan sektor pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga efisien dalam memanfaatkan sumber daya dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Aquaponik menjadi salah satu langkah inovatif untuk mengoptimalkan potensi lahan, efisiensi pemanfaatan air, menghasilkan pangan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Gunungkidul.