PATUK – Prestasi petani dan pelaku usaha kakao Kabupaten Gunungkidul pada ajang Festival Cokelat 4.0 Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2026 terus berlanjut. Setelah sebelumnya berhasil meraih juara pada Lomba Kebun Kakao dan Lomba Mutu serta Cita Rasa Biji Kakao Kering Fermentasi, kini Gunungkidul kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui Lomba Bean to Bar, yang menjadi ajang unjuk kemampuan mengolah biji kakao menjadi produk cokelat berkualitas.
Dominasi Gunungkidul juga terlihat pada Kategori Khusus. Kelompok Tani Ngudi Raharja II dari Plosokerep, Bunder, Patuk berhasil meraih Juara I dengan nilai 19,82, disusul Kelompok Tani Sari Mulya dari Gambiran, Bunder, Patuk sebagai Juara II dengan nilai 19,13. Sementara Juara III diraih Kelompok Tani Ngudi Rejeki dari Kalibawang, Kulon Progo.
Pada Kategori Umum, pelaku usaha kakao asal Gunungkidul berhasil mendominasi dua peringkat teratas. Gun-Kid dari Gambiran, Bunder, Patuk berhasil meraih Juara I dengan nilai 53,617, sedangkan Gen Milenial dari Kepek, Wonosari meraih Juara II dengan nilai 52,700. Adapun Juara III diraih oleh KWT Arum Sari dari Kabupaten Sleman.
Keberhasilan tersebut semakin mempertegas kualitas kakao Gunungkidul yang tidak hanya unggul pada aspek budidaya dan pascapanen, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan cokelat yang memiliki cita rasa dan kualitas yang mampu bersaing. Lomba bean to bar sendiri merupakan kompetisi yang menilai kemampuan peserta dalam mengolah biji kakao fermentasi menjadi cokelat siap konsumsi melalui tahapan pengolahan secara mandiri, mulai dari pemilihan bahan baku hingga menjadi produk akhir.
Rangkaian prestasi ini menjadi bukti bahwa pengembangan kakao di Kabupaten Gunungkidul telah menunjukkan kemajuan yang menyeluruh, mulai dari pengelolaan kebun, peningkatan mutu biji kakao fermentasi, hingga pengolahan menjadi produk bernilai tambah. Capaian tersebut tidak terlepas dari sinergi antara petani, kelompok tani, pelaku usaha, penyuluh pertanian, serta dukungan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mendorong pengembangan komoditas kakao secara berkelanjutan.
Prestasi yang diraih pada seluruh rangkaian lomba Festival Cokelat 4.0 diharapkan menjadi motivasi bagi petani dan pelaku usaha kakao untuk terus meningkatkan kualitas produksi dan inovasi produk olahan. Dengan demikian, kakao Gunungkidul tidak hanya dikenal sebagai penghasil biji kakao berkualitas, tetapi juga mampu menghadirkan produk cokelat unggulan yang memiliki daya saing dan nilai tambah, sekaligus memperkuat posisi Gunungkidul sebagai salah satu sentra kakao unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta.